2024 jadi tahun yang paling panas. Hal itu telah dibeberkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam laman BMKG, dijelaskan, sepanjang periode pengamatan tahun 1981 hingga 2024 di Indonesia, Tahun 2024 menempati urutan pertama tahun terpanas di Indonesia dengan nilai anomali sebesar 0.8 derajat celcius.
Berdasarkan data dari 117 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata periode 1991-2020 di Indonesia sebesar 26.7 derajat celcius dan suhu udara rata-rata tahun 2024 sebesar 27,5 derajat celcius. Sehingga anomali suhu udara rata-rata tahun 2024 sebesar 0.8 derajat celcius. Anomali suhu udara rata-rata per-stasiun pada tahun 2024 yang diperoleh dari 113 stasiun pengamatan BMKG di Indonesia menunjukkan hampir seluruhnya bernilai anomali positif. Anomali tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi Gusti Syamsir Alam – Kab. Kotabaru (sebesar 1.5 derajat celcius), sedangkan anomali terendah tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda – Banda Aceh (sebesar -0.2 derajat celcius).
Sebelumnya, pada Oktober 2024, peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Marfasran Hendrizan sudah menjelaskan risiko kenaikan suhu ini. Dia menjelaskan, dulu, Indonesia pernah mengalami suhu naik hingga 3 derajat celsius. Tetapi Itu butuh waktu 7 ribuan tahun.
“Namun, peningkatan suhu 3 derajat celsius bahkan lebih di masa depan hanya membutuhkan kurang dari seratus tahun,” ungkap Hendrizan, seperti dalam publikasi BRIN.
Hendrizan menjelaskan, riset paleoklimat berfokus pada pengungkapan sejarah perubahan iklim masa lampau, untuk membantu memahami perubahan iklim dan dampaknya di masa kini dan masa depan.

Sementara itu, faktor pemanasan global disebut para ilmuwan disebabkan oleh emisi. Lebih 70 persen emisi karbon global berasal dari kota di seluruh dunia. Namun implementasi kota hijau harus benar-benar diawasi. Jangan sampai kota hijau hanya jadi jargon.
“Seperempat emisi yang berasal dari perkotaan pada tahun 2050 bisa ditekan karena penataan ruang yang terpadu,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau (YMH) Doddy Sukadri. Untuk diketahui, YMH adalah lembaga yang fokus pada isu perubahan iklim dan transisi energi berkeadilan.
Namun, menerapkan kota hijau cukup berat. Ketimpangan yang terus terjadi di perkotaan menghambat tujuan pembangunan kota yang berkelanjutan. Misalnya, 2,1 miliar ton sampah kota dihasilkan oleh perkotaan pada tahun 2023, dan volumenya diperkirakan akan meningkat menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

Sebenarnya, komitmen dunia soal ini, tertuang pada Paris Agreement. Target mereka adalah menjaga temperatur global tidak naik lebih dari 2 derajat celcius. Lalu pada komitmen nasional, amanat UU No 16/2016 tentang pengesahan Paris Agreement: Menurunkan emisi gas rumah kaca 29 persen dari BaU dengan kemampuan sendiri atau 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030. Sedangkan, salah satu penghasil emisi adalah sektor energi fosil. Sayangnya, hingga saat ini ketergantungan pada energi fosil masih cukup tinggi.

Kondisi ini, juga berdampak pada kenaikan muka air laut. Melansir laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Riset Bidang Meteorologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan, pada tahun 2010 muka air laut telah meningkat sebanyak 0,4 meter. Hal ini berdampak pada hilangnya daratan seluas 7.408 km2. Diperkirakan pada tahun 2050 muka air laut akan meningkat sebanyak 0.56 meter yang akan menyebabkan hilangnya luas daratan Indonesia sekitar 30.120 km2.

‘‘Dampak perubahan iklim tidak terbatas pada keberlangsungan sumber daya air semata, melainkan pada penentuan kalender tanam, hilangnya pulau-pulau kecil, banjir dan lain sebagainya,’’ ujarnya.
Eddy menambahkan, diperkirakan tahun 2100 Indonesia akan kehilangan 115 pulau-pulau berukuran sedang yang berada di Provinsi Sumatera Utara sampai ke Papua Barat. (Nff/Sirana.id)
Baca juga: Meresahkan Masa Depan Air di Kalimantan Timur














