Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Unity of Trend (UniTrend) memaparkan bahwa 99,6 persen responden di Kaltim menyebutkan Indonesia ini perlu mendeklarasikan kondisi darurat iklim. Juga menangani masalah krisis iklim ini lebih serius. Sebab, 100% responden Papua, Maluku, Sulawesi, dan termasuk Kalimantan, turut merasakan adanya krisis iklim pada 2023.
Sementara itu, riset The Nature Conservacy (TNC) yang telah dipublikasikan dalam jurnal Lancet Planetary Health. Mereka menemukan peningkatan suhu 0,95 derajat celcius, dari 2002 hingga 2018 di Berau, Kalimantan Timur. Padahal, dunia membutuhkan 150 tahun, untuk menghangat 0,9 derajat celcius.
Kondisi ini, juga berdampak pada kenaikan muka air laut. Melansir laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Riset Bidang Meteorologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan, pada tahun 2010 muka air laut telah meningkat sebanyak 0,4 meter. Hal ini berdampak pada hilangnya daratan seluas 7.408 km2. Diperkirakan pada tahun 2050 muka air laut akan meningkat sebanyak 0.56 meter yang akan menyebabkan hilangnya luas daratan Indonesia sekitar 30.120 km2.
‘‘Dampak perubahan iklim tidak terbatas pada keberlangsungan sumber daya air semata, melainkan pada penentuan kalender tanam, hilangnya pulau-pulau kecil, banjir dan lain sebagainya,’’ ujarnya.
Eddy menambahkan, diperkirakan tahun 2100 Indonesia akan kehilangan 115 pulau-pulau berukuran sedang yang berada di Provinsi Sumatera Utara sampai ke Papua Barat.
Krisis Air yang Makin Nyata
Namun, masalah ini tidak hanya soal pulau-pulau yang akan tenggelam. Tetapi juga ketersediaan air untuk dikonsumsi manusia. Krisis iklim akan berdampak pada krisis air. Penguapan yang tinggi, lalu bencana hidrometeorologi, semua berkelindan.
Secara umum perubahan iklim berpengaruh terhadap sumber daya air baik langsung atau tidak langsung antara lain meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah, meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah panjangnya periode musim kering, meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas, perubahan ekosistem dan layanan ekosistem, meningkatnya intensitas dan frekuensi badai, serta meningkatnya tinggi gelombang, abrasi pantai, dan meluasnya kawasan yang terpengaruh intrusi air laut.
Peneliti Ahli Utama Pengelolaan DAS, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Irfan Budi Pramono mengatakan Solusi Berbasis Alam (Nature Based Solutions) mempunyai potensi yang besar untuk mengatasi masalah sumber daya air seiring dengan perubahan iklim. Di mana paradigma pengaturan air yang semula dari ‘mengalirkan’ menjadi ‘meresapkan’.
“NBS ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah sumber daya air, namun akan melengkapi solusi-solusi lainnya seperti melengkapi dan mengoptimalkan fungsi grey infrastruktur,” ungkapnya. Irfan menambahkan, penerapan NBS dalam pengelolaan sumber daya air seiring dengan perubahan iklim perlu melibatkan banyak pihak baik pemerintah maupun masyarakat.
Di Kaltim sendiri tak sedikit wilayah yang sudah mengeluhkan susahnya akses air. Umumnya wilayah tersebut berada di pesisir. Seperti Balikpapan, wilayah Sepaku, Bontang, dan kepulauan. Selain itu, di beberapa wilayah kepulauan, air tanahnya juga tak memadai. Opsi satu-satunya yang mudah dan murah adalah memanen air hujan.
Sejak lama, praktik ini dilakukan masyarakat. Seperti masyarakat di Pulau Maratua, Berau. Tiga dari empat kampung di wilayah ini, tak memiliki air tanah yang selalu layak konsumsi. Saat musim kemarau, air cenderung payau. Sehingga, warga di sini selalu bergantung pada air hujan.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) telah memberi pelatihan memanen air hujan di wilayah ini. Mereka mengajarkan warga Maratua membuat Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) dan Gama Rain Filter karya Agus Maryono, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada. Sistem IPAH dan Gama Filter menjamin bahwa air tidak terkontaminasi bakteri dan siap minum. Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa beberapa liter air hujan yang turun di 10-15 menit pertama hujan akan ditampung tapi tidak masuk dalam sistem filter. Untuk menghindari polutan yang mungkin masih terbawa. Air hujan kemudian akan difilter dan harus dijaga tampungannya agar terlindung dari sinar matahari. Dengan proses ini, tanpa dimasak pun air hujan dapat siap diminum.
Filter ini tidak hanya di Maratua. Pada Juli lalu, mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang sedang KKN di Muara Pantuan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur juga memasang Gama Rain Filter. Serupa dengan Maratua, Muara Pantuan yang menghadap langsung Selat Makassar ini juga dihadapkan masalah air.
Salah satu anggota mahasiswa KKN-PPM UGM, Rama Banin Maula, menuturkan alat teknologi pemanen air hujan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih dan pasokan listrik masyarakat di salah dua dari tiga desa yang berada di pesisir delta mahakam.
“Kita harapkan kebutuhan air bersih bisa terpenuhi lewat teknologi ini,” kata dia seperti dilansir dari laman UGM.
Kondisi di muara pantuan hampir disetiap rumah masyarakat tersedia tandon dan sebenarnya sudah memanfaatkan air hujan untuk kegiatan sehari-hari, dengan menampung langsung air hujan menuju tandon tanpa menggunakan sistem penyaring, air disini cenderung kotor dan bercampur dengan pasir dan karat. Nantinya dengan menggunakan filtrasi Gama Rain Filter air hujan dapat menjadi air baku bersih yang bisa langsung dipakai untuk kebutuhan masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.
Sementara itu, dua kota di Kaltim yakni Balikpapan dan Bontang juga mengalami masalah air. Dua kota ini juga sama-sama berada di pesisir. Bontang banyak bergantung pada air tanah dan cadangannya kian menipis. Apalagi, Bontang juga memiliki industri-industri besar. Sedangkan Balikpapan juga banyak bergantung pada waduk di utara kota ini. Namun, waduk Manggar tak benar-benar cukup. Belum lagi, Balikpapan makin ramai dengan adanya IKN dan proyek raksasa lain di sekitarnya.
Maka dari itu, memastikan aksi nyata untuk perubahan iklim seperti yang diharapkan narasumber dalam penelitian CELIOS harus dilakukan. Agar hidup di Kalimantan Timur tidak makin sulit. (red)















