BALIKPAPAN, 13 Mei 2026 — Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI) resmi meluncurkan Buku Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) bagi Sekolah Dasar wilayah pesisir dalam kegiatan Diseminasi dan Peluncuran Buku PLH SD Pesisir di Novotel Balikpapan, Rabu (13/5). Buku tersebut disusun bersama guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Paser dan Kutai Kartanegara guna menghadirkan materi pembelajaran lingkungan yang sesuai dengan kondisi masyarakat pesisir.
Buku PLH SD Pesisir disiapkan sebagai jawaban atas kebutuhan sekolah pesisir terhadap bahan ajar yang lebih kontekstual, khususnya mengenai persoalan abrasi, sampah plastik, pencemaran air, hingga pelestarian ekosistem mangrove. Penyusunan buku dilakukan sejak 2022 melalui rangkaian workshop lingkungan hidup, diskusi dengan tenaga pendidik, hingga proses finalisasi pada 2025.
Peluncuran buku dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser, Muhammad Yunus Syam, serta Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Kutai Kartanegara, Gamal Abdul Aziz. Kegiatan ini juga menghadirkan pembina Adiwiyata Kalimantan Timur, Baharuddin, yang membahas strategi implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup dan program Adiwiyata di sekolah.
Direktur Yayasan Planet Urgensi Indonesia, Reonaldus, menjelaskan bahwa YPUI yang berdiri sejak 2022 merupakan bagian dari Planète Urgence (PU), organisasi lingkungan dan pembangunan yang berbasis di Paris, Prancis. Saat ini YPUI menjalankan sejumlah program di Kalimantan Timur melalui Proyek Mahakam, di Banten melalui Proyek MERCI, serta di Lampung melalui Proyek Way Kambas. Berbagai program tersebut berfokus pada konservasi dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan edukasi, restorasi ekosistem, dan penguatan kapasitas masyarakat lokal.
“Dan terbitnya buku ini menjadi salah satu bentuk penyadartahuan dan edukasi lingkungan ke masyarakat, salah satunya melalui anak-anak di sekolah,” ujar Reonaldus.
Dalam sambutannya, Muhammad Yunus Syam menekankan pentingnya menjaga kawasan pesisir dengan menyinggung pengalaman di Desa Tanjung Aru, Kabupaten Paser, yang pernah terancam hilang akibat abrasi sekitar 30 tahun lalu. Menurutnya, desa tersebut dapat terselamatkan berkat penanaman mangrove oleh relawan mahasiswa KKN pada masa itu.
“Pengalaman ini yang membuat saya sangat setuju dan ingin memberikan dukungan penuh untuk membantu menjaga ekosistem pesisir. Dari buku ini saya berharap dapat membantu menanamkan kesadaran peduli lingkungan yang bisa dimulai dari kalangan anak-anak,” kata Yunus Syam.
Sementara itu, Gamal Abdul Aziz menyampaikan apresiasi kepada YPUI atas penyelenggaraan kegiatan dan penyusunan buku PLH tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada YPUI atas kegiatan ini. Harapannya, materi Pendidikan Lingkungan Hidup ini bisa berkembang hingga tingkat SMP dan masuk ke dalam kurikulum,” ujar Gamal Abdul Aziz.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan lingkungan hidup di kawasan pesisir melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan kondisi dan tantangan lingkungan masyarakat setempat. (RA/ Sirana.id)












