SIRANA.ID
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
SIRANA.ID
No Result
View All Result
Home Potretrana

Degradasi Padang Lamun di Sumatera dan Jawa Lepaskan Karbon Lebih Besar Dibandingkan Wilayah Lain

Sirana.id by Sirana.id
18 January 2026
in Potretrana
0
ilustrasi pesisir di Pulau Jawa

ilustrasi pesisir di Pulau Jawa

0
SHARES
20
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

RISET terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa faktor emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia tidak seragam, dengan wilayah Jawa dan sebagian Sumatra menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan wilayah lain.

Penelitian ini dilakukan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi BRIN, A’an Johan Wahyudi, melalui publikasi jurnal ilmiah yang secara khusus mengkaji emisi karbon yang dilepaskan bilamana ekosistem lamun mengalami gangguan.

Selama ini, pembahasan mengenai karbon biru lebih banyak menyoroti kemampuan ekosistem pesisir menyerap karbon, sementara aspek emisi akibat kerusakan relatif jarang diperhitungkan.

“Kalau kita bicara karbon biru, selama ini fokusnya selalu pada penyerapan. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan,” kata A’an, dalam wawancara dengan Humas BRIN, Rabu (14/1).

Namun, A’an menjelaskan bahwa fungsi penyimpanan karbon tersebut dapat berubah ketika lamun mengalami gangguan. Aktivitas manusia di wilayah pesisir, seperti reklamasi, pengerukan, maupun peningkatan sedimentasi, dapat menghambat pertumbuhan lamun dan memicu degradasi ekosistem, serta menyebabkan pelepasan atau emisi karbon.

“Sederhananya, ketika lamun sehat, karbon diserap dan disimpan. Namun, ketika rusak – misalnya karena reklamasi atau pengerukan – daun, akar, dan bagian lamun lainnya mengalami pembusukan. Proses dekomposisi inilah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer,” jelas A’an.

Ia menambahkan bahwa lamun memang memiliki kemampuan menyaring sedimen, tetapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas. Jika jumlah sedimen yang masuk terlalu besar, keseimbangan ekosistem akan terganggu.

“Lamun memang bisa menyaring sedimen, tapi kalau sedimennya berlebihan, misalnya akibat erosi dari daratan, maka hal itu tetap akan mengganggu,” ujarnya.

Faktor Emisi Karbon Lamun

Dalam riset ini, A’an mengenalkan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun. Faktor emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan. “Dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun, dan berpotensi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir,” jelas A’an.

Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global (Tier-1 IPCC) untuk menghitung emisi karbon dari lamun. “Padahal, kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.

Wilayah pesisir di Jawa dan sebagian Sumatra memiliki tekanan antropogenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan timur Indonesia yang relatif lebih alami.

Untuk mengatasi keterbatasan data seri jangka panjang, A’an menggunakan pendekatan chronosequence modeling. Metode ini membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dengan yang telah terdegradasi, untuk memperkirakan perubahan kondisi karbon dari waktu ke waktu.

“Hampir tidak ada data yang merekam kondisi lamun 10 atau 20 tahun lalu. Yang kita punya hanya kondisi saat ini. Maka, wilayah yang lamunnya masih bagus seperti Nusa Tenggara Timur kita anggap sebagai referensi masa lalu,” kata A’an.

Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi, terutama Jawa dan sebagian Sumatra. Sebaliknya, wilayah seperti Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai faktor emisi yang lebih rendah.

“Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih besar,” ujar A’an.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kerusakan satu hektare padang lamun di wilayah barat Indonesia dapat menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan dengan luasan yang sama di wilayah timur. Dengan kata lain, lokasi degradasi menjadi faktor penting dalam perhitungan emisi karbon lamun secara nasional.

Melalui riset ini, Indonesia didorong untuk mulai beralih dari pendekatan Tier-1 menuju Tier-2, yakni penggunaan faktor emisi yang lebih spesifik dan mencerminkan kondisi nasional. Meski demikian, A’an menegaskan bahwa angka faktor emisi yang dihasilkan saat ini masih bersifat awal.

“Faktor emisi yang saya hitung baru berdasarkan karbon biomassa lamun, seperti dari daun dan akar. Padahal, cadangan karbon terbesar justru ada di sedimennya,” katanya.

Ke depan, A’an menyebut bahwa penggabungan data biomassa dan sedimen diperlukan agar perhitungan faktor emisi karbon lamun menjadi lebih presisi dan dapat mendukung kebutuhan pelaporan penurunan emisi karbon nasional, termasuk dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC).

Untuk menjaga ekosistem lamun agar tetap lestari, ia menekankan pentingnya regulasi yang kuat, implementasi yang konsisten, serta keterlibatan masyarakat pesisir, mulai dari pengelolaan sampah hingga praktik pembangunan yang lebih ramah lingkungan.

Lebih jauh, A’an menyoroti urgensi sistem pemantauan laut jangka panjang. Indonesia membutuhkan sistem pengamatan laut nasional (Indonesia Ocean Observing System/IOOS), yang tidak hanya memantau aspek fisik, tetapi juga aspek biogeokimia dan ekosistem laut.

Riset ini menegaskan bahwa kondisi ekosistem lamun menentukan apakah karbon tetap tersimpan di dalam sistem atau justru terlepas ke atmosfer ketika terjadi degradasi, sekaligus menunjukkan pentingnya memahami variasi regional dalam upaya penghitungan emisi karbon pesisir Indonesia. (*)

Tags: jawapadang lamunpesisirsumatera
Sirana.id

Sirana.id

Ada beberapa alasan nama Sirana disematkan untuk portal ini. Dari selatan provinsi Kalimantan Timur yaitu Kabupaten Paser, Sirana adalah satu dari jenis anggrek yang terkenal keindahannya di Cagar Alam Teluk Adang. Lalu, Rana adalah nama yang dari berbagai bahasa, memiliki makna indah, anggun, riang, dan pemberani. Dari nama ini, Sirana bersemangat menjadi media yang memberi warna berbeda untuk Kalimantan Timur. Mungkin tidak jadi yang tercepat atau terbesar, tapi bisa menjadi oase baru di dunia jurnalistik Kalimantan Timur. Sirana akan berusaha terus berdaya dan bersuara menyajikan liputan yang nyaman dibaca untuk semua Temanrana

Related Posts

Dok: Istimewa
Nasional

Menanti Surat Presiden untuk RUU PPRT

15 April 2026
Kamera jebak menangkap gambar satwa endemik Lutung Kutai di bentang alam Wehea-Kelay.
Ceritarana

Kabar Baik dari Wehea-Kelay: Surga Satwa Langka di Kalimantan Timur

20 January 2026
Kampung Payung Payung Maratua/RA
Ceritarana

2026, Begini Naik Pesawat ke Maratua

6 January 2026
Next Post
Induk pesut mahakam dan anaknya (YK-RASI)

Alasan Mengapa Tak Ada Penangkaran Pesut Mahakam

Ilustrasi jurnalis/Freepik

Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan UU PDP, Hak Publik Dapat Informasi Dinilai Terancam

Kamera jebak menangkap gambar satwa endemik Lutung Kutai di bentang alam Wehea-Kelay.

Kabar Baik dari Wehea-Kelay: Surga Satwa Langka di Kalimantan Timur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Dokumentasi: Perempuan Mahardhika

Pernyataan Sikap Perempuan Mahardhika Samarinda: Wujudkan Kerja Layak untuk Perempuan, Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja

5 days ago
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)

AMNESTY INTERNATIONAL INDONESIA: Dengarkan aspirasi masyarakat Kaltim, usut kekerasan atas peserta aksi dan jurnalis

2 weeks ago
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)

Empat Jurnalis Kaltim Jadi Korban Represi Saat Aksi Demo 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

2 weeks ago
Kawat Berduri di Kantor Gubernur Kaltim/RA

Pemasangan Kawat Berduri di Kantor Gubernur Kaltim Berlebihan dan Ancam Nilai Demokrasi

2 weeks ago

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized

Berita Populer

industri batu bara Kaltim (sirana.id)
Ceritarana

Permintaan Batu Bara Menurun, Anak Muda Kaltim Harus Bersiap

by Sirana.id
5 June 2025
0

SAMARINDA - Sejak era sebelum kemerdekaan, pertambangan dahulu jadi daya tarik Kalimantan Timur. Sisa industri pertambangan batu...

para perempuan yang memperjuangkan pemulihan ekosistem di Teluk Balikpapan, dalam sebuah aksi pad 2024 lalu. (Foto; Nofiyatul Chalimah)

Krisis Iklim dan Kerentanan Ganda Perempuan

12 June 2025
ilustrasi salah satu fakultas universitas Mulawarman/sirana.id)

Tujuh Perguruan Tinggi di Kaltim ini, Mahasiswa Barunya Tak Perlu Bayar UKT

17 June 2025
Tongkang batu bara yang melintas di perairan Kaltim (Sirana.id)

Orang Kaya di Indonesia dan 221 Ribu Rakyat Miskin Kaltim

28 September 2024
Nelayan dan kapal tongkang di Teluk Balikpapan (Foto: Nofiyatul Chalimah)

Memperjuangkan Kehidupan di Teluk Balikpapan dan Ambisi Pembangunan IKN

19 February 2025

Topik

aji indonesia amnesty international anak badan otorita IKN balikpapan banjir batu bara bencana sumatera berau BMKG bps kaltim BRIN diskominfo kukar Gaza gempa HAM ikn indonesia jurnalis kalimantan timur kaltim kekerasan kekerasan anak kekerasan perempuan kemen PPPA ketahanan pangan komnas perempuan krisis iklim kukar Kutai Kartanegara lubang tambang maratua masyarakat adat perempuan pertambangan pesut mahakam pilkada pulau maratua samarinda sampah sirana.id tambang tambang batu bara universitas mulawarman wisata
SIRANA.ID

Sirana.id adalah media lokal di Kalimantan Timur yang hadir dengan semangat edukasi dan sumber informasi bagi publik Kalimantan Timur. Sirana berupaya memberikan ruang lebih besar bagi perempuan.

Follow sosial media kami:

Berita Terkini

  • Pernyataan Sikap Perempuan Mahardhika Samarinda: Wujudkan Kerja Layak untuk Perempuan, Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja
  • AMNESTY INTERNATIONAL INDONESIA: Dengarkan aspirasi masyarakat Kaltim, usut kekerasan atas peserta aksi dan jurnalis
  • Empat Jurnalis Kaltim Jadi Korban Represi Saat Aksi Demo 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized
  • Tentang Sirana
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
  • Hubungi Kami

© 2025 Sirana.id . All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ranamendalam
  • Ceritarana
  • Ranaterkini
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Diskominfo Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar

© 2025 Sirana.id . All rights reserved