SAMARINDA – Video seekor induk orangutan bersama anaknya yang tampak sangat kurus saat melintas di jalan hauling tambang viral di media sosial. Keduanya ditemukan dalam kondisi malnutrisi dan dehidrasi di kawasan tambang batu bara di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur.
Penemuan tersebut berada di perbatasan konsesi tambang PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim di lanskap Karaitan, wilayah yang selama ini dikenal sebagai habitat orangutan di Kutai Timur. Namun, kawasan tersebut kini dikelilingi aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, hingga Hutan Tanaman Industri (HTI), sehingga hanya menyisakan kantong-kantong hutan kecil yang tidak lagi saling terhubung.
Manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti, mengatakan tim penyelamat menemukan induk orangutan bernama Mauliyan bersama anaknya, Ariandi, di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area tambang. Saat ditemukan, kondisi keduanya disebut sangat memprihatinkan karena minimnya sumber pakan di sekitar lokasi.
“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” ujar Widi, dikutip dari Detikcom, Selasa (2/5/2026).
Widi menjelaskan Mauliyan mengalami malnutrisi berat dengan kondisi tubuh yang sangat kurus. Hasil pemeriksaan awal juga menunjukkan induk orangutan tersebut mengalami dehidrasi meski masih aktif menyusui anaknya yang berusia sekitar tiga tahun.
“Body score Mauliyan saat itu di bawah dua dari nilai maksimal lima. Tulangnya terlihat jelas, kulitnya sangat kering, dan dia masih menyusui anaknya yang saat itu masih usia sekitar 3 tahun,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, tim kemudian memutuskan mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) milik COP di Kabupaten Berau. Saat pemeriksaan, produksi ASI Mauliyan disebut sangat sedikit sehingga dikhawatirkan memengaruhi kondisi Ariandi yang masih bergantung pada induknya.
“Ketika diperiksa saat evakuasi, ASI yang keluar sangat sedikit. Padahal Ariandi masih membutuhkan perawatan dari induknya,” jelasnya.
Setelah menjalani perawatan di pusat rehabilitasi, kondisi Mauliyan sempat kembali menurun. Widi menyebut beberapa hari setelah tiba di klinik, induk orangutan itu mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah akibat malnutrisi dan aktivitas menyusui.
“Setelah lima hari di klinik, kondisi fisiknya drop dan dia didiagnosis mengalami hipoglikemia sehingga harus mendapatkan penanganan suportif,” jelasnya.
Proses rehabilitasi kemudian difokuskan pada pemulihan kondisi fisik Mauliyan, mulai dari peningkatan berat badan hingga perbaikan kondisi kulit dan rambut. Selama enam bulan menjalani rehabilitasi, perilaku liar Mauliyan disebut tetap terjaga meski mulai terbiasa dengan keberadaan perawat satwa.
“Insting liarnya masih sangat kuat dan naluri keibuannya juga tetap terlihat. Dia selalu berada di dekat Ariandi dan terus melindungi anaknya,” tuturnya.
Sementara itu, paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengatakan kondisi Mauliyan saat pertama kali tiba di pusat rehabilitasi memang sangat memprihatinkan. Selain mengalami malnutrisi dan dehidrasi, aktivitas menyusui disebut semakin memperburuk kondisi fisiknya.
“Mauliyan di-rescue dalam kondisi dehidrasi, malnutrisi, dan masih menyusui anaknya sehingga kondisinya semakin berat,” kata Hanifah.
Ia menjelaskan Mauliyan bahkan sempat pingsan akibat kadar gula darah yang sangat rendah. Tim medis kemudian memberikan terapi cairan dan tambahan nutrisi untuk membantu proses pemulihan.
“Mauliyan sempat pingsan dari pagi sampai siang dan kami melakukan terapi cairan serta tambahan madu dan gula untuk membantu pemulihan,” ujarnya.
Selama menjalani rehabilitasi, Mauliyan mendapatkan perawatan khusus dibanding orangutan lain. Tim medis memberikan porsi makan dua kali lebih banyak, tambahan alpukat, susu kedelai, hingga cairan elektrolit secara rutin guna mempercepat pemulihan nutrisi.
Berat badan Mauliyan pun meningkat signifikan selama masa rehabilitasi. Dari awalnya sekitar 19 kilogram, berat tubuhnya bertambah menjadi 34 kilogram pada Maret 2024 saat akan dilepasliarkan. Kondisi kulitnya membaik, rambut mulai tumbuh kembali, dan perilaku liarnya tetap terjaga. (Gamora/Sirana.id)












