SIRANA.ID
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
SIRANA.ID
No Result
View All Result
Home Ranaterkini Nasional

Pilkada Tak Langsung Dinilai Merugikan Rakyat

AdminSirana2 by AdminSirana2
17 January 2026
in Nasional, Ranaterkini
0
Konferensi Pers, Indonesian Parliamentary Center (IPC) bersama Sindikasi Pemilu dan Demokrasi/Istimewa

Konferensi Pers, Indonesian Parliamentary Center (IPC) bersama Sindikasi Pemilu dan Demokrasi/Istimewa

0
SHARES
18
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta — Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara tidak langsung dinilai berpotensi menjadi kemunduran bagi demokrasi Indonesia. Di tengah persoalan serius terkait krisis representasi politik yang masih membayangi sistem pemilu nasional, skema Pilkada tidak langsung justru dianggap mempersempit ruang kedaulatan rakyat dan memperkuat dominasi elite politik.

Pandangan tersebut disampaikan Indonesian Parliamentary Center (IPC) bersama Sindikasi Pemilu dan Demokrasi dalam peluncuran policy brief berjudul “Reformasi Sistem Pemilu: Mengembalikan Fungsi Representasi Politik dan Keseimbangan Kekuasaan dalam Sistem Presidensial Indonesia.”

Peneliti Sindikasi Pemilu dan Demokrasi, Aqidatul Izza Zain, menilai gagasan Pilkada tidak langsung bukanlah solusi atas persoalan mahalnya biaya politik. Menurutnya, mekanisme tersebut justru mencerminkan kepentingan elite. “Pilkada tidak langsung adalah jalan pintas elite. Ini bukan solusi atas mahalnya biaya politik, tapi kemunduran serius bagi kedaulatan rakyat,” tegas Aqidatul.

Kajian IPC menunjukkan bahwa selama lebih dari tiga dekade, terutama pada masa Orde Baru, demokrasi perwakilan di Indonesia mengalami distorsi. Personalisasi politik, kompetisi berbasis modal, serta praktik politik uang melemahkan peran partai politik sebagai institusi representasi. Dampaknya, parlemen kehilangan fungsi kritisnya. Kondisi ini berlanjut pascareformasi, ditandai dengan dominasi partai koalisi pemerintah yang menguasai hampir 70 persen kursi DPRD, sehingga fungsi checks and balances berjalan tidak optimal.

Peneliti IPC, Chorisatun Nikmah, menilai penerapan Pilkada tidak langsung justru berpotensi memperburuk situasi. “Dampak Pilkada tidak langsung akan melemahkan secara fungsi. Ketika DPRD kehilangan daya kontrol, menarik hak pilih rakyat di Pilkada justru akan memperparah krisis demokrasi,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa mekanisme tersebut berisiko mengalihkan akuntabilitas kepala daerah dari rakyat kepada elite partai dan DPRD. “Jika kepala daerah dipilih oleh segelintir elite di DPRD, maka loyalitasnya bukan lagi pada warga, melainkan pada kekuatan politik yang memilihnya,” lanjut Chorisatun.

Sementara itu, Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP), Neni Nur Hayati, menilai akar persoalan demokrasi elektoral bukan terletak pada pemilihan langsung, melainkan pada desain sistem pemilu yang gagal membangun partai politik yang demokratis dan akuntabel. “Menekan biaya politik tidak boleh dibayar dengan mencabut hak pilih rakyat. Demokrasi tidak boleh dikorbankan demi stabilitas semu,” katanya.

Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu, Brahma Aryana, mengingatkan bahwa tanpa reformasi menyeluruh terhadap sistem kepartaian, pendanaan politik, dan akuntabilitas wakil rakyat, demokrasi hanya akan bersifat prosedural. “Jika Pilkada tidak langsung dipaksakan di tengah krisis representasi nasional, maka yang kita bangun bukan demokrasi, melainkan konsolidasi kekuasaan elite,” pungkasnya. (Sirana.id)

Tags: demokrasipilkada
AdminSirana2

AdminSirana2

Related Posts

Antonio Gueterres (foto: UN)
Ranaterkini

Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas Atas Kejahatan Terhadap Jurnalis 2026 – Pesan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres

4 November 2026
Peserta menyaksikan film dokumenter Inong Peudame: Together, We Were Brave di Aceh Besar, 30 September 2026. Foto: UN Women/Riska Munawarah
Ceritarana

Meneruskan Warisan Perjuangan Perempuan Aceh: Film Inong Peudame Dorong Dialog tentang Perempuan, Perdamaian, dan Ketangguhan

1 October 2026
Petani memanen jagung (foto: Pupuk Kaltim)
Advertorial

Dorong Kemandirian Desa, Pupuk Kaltim Raih Predikat Gold pada CSR dan PDB Awards 2026

1 October 2026
Next Post
ilustrasi pesisir di Pulau Jawa

Degradasi Padang Lamun di Sumatera dan Jawa Lepaskan Karbon Lebih Besar Dibandingkan Wilayah Lain

Induk pesut mahakam dan anaknya (YK-RASI)

Alasan Mengapa Tak Ada Penangkaran Pesut Mahakam

Ilustrasi jurnalis/Freepik

Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan UU PDP, Hak Publik Dapat Informasi Dinilai Terancam

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized

Topik

advertorial aji indonesia amnesty international anak banjir batu bara bencana sumatera berau BMKG bps kaltim BRIN diskominfo kukar DPR RI Gaza gempa HAM ikn indonesia jurnalis kalimantan timur kaltim kekerasan kekerasan perempuan kemen PPPA ketahanan pangan komnas perempuan krisis iklim kukar Kutai Kartanegara lubang tambang maratua masyarakat adat orangutan perempuan pesut mahakam pilkada pulau maratua pupuk kaltim samarinda sampah sirana.id tambang tambang batu bara universitas mulawarman wisata

Berita Terkini

  • Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas Atas Kejahatan Terhadap Jurnalis 2026 – Pesan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres
  • Kunjungi PKT, Anggota Komisi XII DPR RI Apresiasi Kinerja Perusahaan
  • Meneruskan Warisan Perjuangan Perempuan Aceh: Film Inong Peudame Dorong Dialog tentang Perempuan, Perdamaian, dan Ketangguhan

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized
  • Tentang Sirana
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
  • Hubungi Kami

© 2025 Sirana.id . All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ranamendalam
  • Ceritarana
  • Ranaterkini
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Diskominfo Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar

© 2025 Sirana.id . All rights reserved