SIRANA.ID
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
SIRANA.ID
No Result
View All Result
Home Ranaterkini Nasional

Perempuan Mahardhika Serukan Aksi Nasional: Kerja Layak dan Bebas Kekerasan Mustahil Terwujud di Bawah Rezim Anti Demokrasi

AdminSirana2 by AdminSirana2
25 November 2025
in Nasional, Ranaterkini
0
perempuan Mahardhika

perempuan Mahardhika

0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

25 November 2025 — Memasuki peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) yang berlangsung setiap 25 November hingga 10 Desember, organisasi Perempuan Mahardhika menggelar Aksi Nasional Serentak di empat kota, yakni Jakarta, Samarinda, Palu, dan Manokwari. Aksi pada tahun ini mengangkat tema “Kerja Layak dan Bebas Kekerasan Tidak Akan Terwujud dalam Rezim Anti Demokrasi.”

Dalam pernyataan sikap resminya, Perempuan Mahardhika menegaskan bahwa momentum HAKTP adalah bagian dari komitmen global untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Mereka mengingatkan sejarah penting 25 November 1960, ketika Mirabal Bersaudara dibunuh oleh diktator Rafael Trujillo. Tragedi tersebut menjadi simbol bahwa kekerasan terhadap perempuan sering menjadi alat rezim otoriter untuk mempertahankan kekuasaan.

Demokrasi Merosot, Kekerasan Meningkat

Perempuan Mahardhika menyatakan bahwa situasi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo–Gibran menunjukkan gejala kemunduran demokrasi atau arus balik. Sejumlah lembaga internasional seperti Freedom House, Global State of Democracy Indices, dan Economist Intelligence Unit mencatat penurunan skor demokrasi Indonesia.

Kemerosotan ini, menurut mereka, terlihat dari sejumlah fenomena seperti perburuan aktivis, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan konflik yang terus terjadi di Papua. Ruang demokrasi yang menyempit juga tampak dari maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap aktivis buruh di berbagai daerah. PHK disebut digunakan sebagai metode union busting untuk melemahkan serikat pekerja.

Di tengah situasi tersebut, kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Data gabungan KemenPPPA, Komnas Perempuan, dan FPL mencatat 35.533 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2024, naik 2,4% dari tahun sebelumnya. Kasus femisida juga mencapai 290 kasus, menjadikannya salah satu bentuk kekerasan berbasis gender paling ekstrem.

Namun, menurut Perempuan Mahardhika, perhatian pemerintah terhadap situasi ini masih sangat minim. Implementasi kebijakan penting seperti UU PKDRT dan UU TPKS dinilai berjalan lambat. Selain itu, pemerintah disebut enggan mengakui kekerasan seksual masa lalu, termasuk kasus perkosaan terhadap perempuan Tionghoa pada Mei 1998 dan pembunuhan serta perkosaan terhadap Marsinah yang hingga kini belum tuntas diusut.

Ketimpangan Gender dalam Dunia Kerja

Dalam pernyataannya, Perempuan Mahardhika juga memaparkan bahwa sebelum memasuki dunia kerja, perempuan sudah menghadapi proses penundukan sistematis. Hal ini tercermin dari rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang hanya mencapai 56,7%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,34%.

Selain itu, mereka menyoroti minimnya perlindungan sosial bagi perempuan, terbatasnya cuti melahirkan enam bulan yang hanya dinikmati sebagian pekerja formal, kurangnya fasilitas perawatan anak, hingga diskriminasi dalam promosi jabatan.

Mayoritas perempuan juga bekerja dalam sektor informal, mencapai 64,25% dari total pekerja informal pada 2023, yang identik dengan upah rendah, jam kerja panjang, target tidak manusiawi, serta minim perlindungan jaminan sosial.

Ekstraktivisme dan Ancaman terhadap Perempuan

Pernyataan tersebut juga mengkritik arah pembangunan ekonomi yang dinilai semakin menguatkan ekstraktivisme. Program swasembada pangan dan energi pemerintahan Prabowo–Gibran dianggap mendorong pembabatan hutan berskala besar serta penyingkiran masyarakat adat, terutama melalui proyek food estate di Merauke yang diperkirakan membuka lahan hingga 2,29 juta hektar.

Perempuan Mahardhika menilai bahwa pembangunan model ekstraktif yang didukung kekuatan militer telah menyebabkan kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan dan perempuan pembela ruang hidup. Mereka menilai kebijakan seperti pajak karbon atau regulasi emisi tidak menyentuh akar krisis karena pemerintah tetap memprioritaskan akumulasi keuntungan dibanding kelestarian alam.

Tiga Seruan Utama

Dalam aksi ini, Perempuan Mahardhika menyampaikan tiga tuntutan besar:

  1. Menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, termasuk pengakuan dan pengusutan kekerasan masa lalu sebagai bagian dari penyelesaian pelanggaran HAM.

  2. Menjamin kerja layak sebagai hak fundamental, dengan menciptakan lapangan kerja, memenuhi jaminan sosial, serta menghentikan intimidasi terhadap aktivis buruh.

  3. Mewujudkan kerja layak yang bebas kekerasan dengan memastikan demokrasi dan lingkungan hidup yang lestari, termasuk menghentikan proyek yang merampas hutan serta kriminalisasi pejuang lingkungan.

“Kami Mau Perubahan Sistem”

Menutup pernyataannya, Perempuan Mahardhika menegaskan bahwa berbagai masalah tersebut tidak akan terselesaikan tanpa perubahan sistem yang menyeluruh. Mereka menyerukan perempuan di seluruh Indonesia untuk berorganisasi dan bergerak bersama.

“Kami mau perubahan sistem,” tegas mereka dalam penutup sikap resmi. “Saatnya perempuan mengambil peran dalam perjuangan menuju Indonesia yang setara, demokratis, dan bebas dari kekerasan.” (Sirana.id)

Baca juga: Perempuan Mahardhika Gelar Aksi Serentak di Empat Kota, Peringatkan Bahwa Kerja Layak dan Bebas Kekerasan Mustahil Terwujud di Bawah Rezim Anti Demokrasi

Tags: ketimpangan gendermahardikaperempuan pekerja
AdminSirana2

AdminSirana2

Related Posts

Dokumentasi: Perempuan Mahardhika
Kalimantan Timur

Pernyataan Sikap Perempuan Mahardhika Samarinda: Wujudkan Kerja Layak untuk Perempuan, Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja

2 May 2026
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)
Kalimantan Timur

AMNESTY INTERNATIONAL INDONESIA: Dengarkan aspirasi masyarakat Kaltim, usut kekerasan atas peserta aksi dan jurnalis

22 April 2026
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)
Kalimantan Timur

Empat Jurnalis Kaltim Jadi Korban Represi Saat Aksi Demo 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

22 April 2026
Next Post
Pelatihan Komnas Perempuan “Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab”

Upaya Perbaikan Narasi Femisida, Komnas Perempuan Hadirkan Buku Saku untuk Jurnalis

Komnas Perempuan

Saat Kekerasan Berujung Kematian: Femisida Jadi Alarm bagi Negara

Foto: Kondisi jembatan yang terputus akibat banjir di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Selasa (25/11). (BPBD Kabupaten Tapanuli Utara)

Empat Kabupaten di Sumatera Utara Dilanda Bencana Banjir dan Longsor Secara Bersamaan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Dokumentasi: Perempuan Mahardhika

Pernyataan Sikap Perempuan Mahardhika Samarinda: Wujudkan Kerja Layak untuk Perempuan, Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja

2 days ago
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)

AMNESTY INTERNATIONAL INDONESIA: Dengarkan aspirasi masyarakat Kaltim, usut kekerasan atas peserta aksi dan jurnalis

2 weeks ago
Aksi Demo 214 oleh masyarakat Kaltim (foto:Nasya)

Empat Jurnalis Kaltim Jadi Korban Represi Saat Aksi Demo 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

2 weeks ago
Kawat Berduri di Kantor Gubernur Kaltim/RA

Pemasangan Kawat Berduri di Kantor Gubernur Kaltim Berlebihan dan Ancam Nilai Demokrasi

2 weeks ago

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized

Berita Populer

industri batu bara Kaltim (sirana.id)
Ceritarana

Permintaan Batu Bara Menurun, Anak Muda Kaltim Harus Bersiap

by Sirana.id
5 June 2025
0

SAMARINDA - Sejak era sebelum kemerdekaan, pertambangan dahulu jadi daya tarik Kalimantan Timur. Sisa industri pertambangan batu...

para perempuan yang memperjuangkan pemulihan ekosistem di Teluk Balikpapan, dalam sebuah aksi pad 2024 lalu. (Foto; Nofiyatul Chalimah)

Krisis Iklim dan Kerentanan Ganda Perempuan

12 June 2025
ilustrasi salah satu fakultas universitas Mulawarman/sirana.id)

Tujuh Perguruan Tinggi di Kaltim ini, Mahasiswa Barunya Tak Perlu Bayar UKT

17 June 2025
Tongkang batu bara yang melintas di perairan Kaltim (Sirana.id)

Orang Kaya di Indonesia dan 221 Ribu Rakyat Miskin Kaltim

28 September 2024
Nelayan dan kapal tongkang di Teluk Balikpapan (Foto: Nofiyatul Chalimah)

Memperjuangkan Kehidupan di Teluk Balikpapan dan Ambisi Pembangunan IKN

19 February 2025

Topik

aji indonesia amnesty international anak badan otorita IKN balikpapan banjir batu bara bencana sumatera berau BMKG bps kaltim BRIN diskominfo kukar Gaza gempa HAM ikn indonesia jurnalis kalimantan timur kaltim kekerasan kekerasan anak kekerasan perempuan kemen PPPA ketahanan pangan komnas perempuan krisis iklim kukar Kutai Kartanegara lubang tambang maratua masyarakat adat perempuan pertambangan pesut mahakam pilkada pulau maratua samarinda sampah sirana.id tambang tambang batu bara universitas mulawarman wisata
SIRANA.ID

Sirana.id adalah media lokal di Kalimantan Timur yang hadir dengan semangat edukasi dan sumber informasi bagi publik Kalimantan Timur. Sirana berupaya memberikan ruang lebih besar bagi perempuan.

Follow sosial media kami:

Berita Terkini

  • Pernyataan Sikap Perempuan Mahardhika Samarinda: Wujudkan Kerja Layak untuk Perempuan, Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja
  • AMNESTY INTERNATIONAL INDONESIA: Dengarkan aspirasi masyarakat Kaltim, usut kekerasan atas peserta aksi dan jurnalis
  • Empat Jurnalis Kaltim Jadi Korban Represi Saat Aksi Demo 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized
  • Tentang Sirana
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
  • Hubungi Kami

© 2025 Sirana.id . All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ranamendalam
  • Ceritarana
  • Ranaterkini
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Diskominfo Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar

© 2025 Sirana.id . All rights reserved