Jakarta, 11 Desember 2025 – Menjelang akhir tahun 2025, program MOST UNESCO–BRIN (Management Of Social Transformation) mengkampanyekan hasil inisiatifnya yang berjudul “Literasi Kebencanaan Inklusif Berbasis Lokal Pengetahuan”. Strategi program ini dirancang untuk memperkuat ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi risiko bencana, dengan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal serta melibatkan kelompok rentan.
Direktur Eksekutif MOST UNESCO Indonesia, Dr. Irine Hiraswari Gayatri, menegaskan pentingnya pendekatan gabungan ini. “Kearifan lokal telah lama menjadi panduan masyarakat dalam membaca tanda alam dan bertahan dari bencana. Dengan menggabungkannya dengan ilmu pengetahuan kontemporer, kita dapat membangun model kesiapsiagaan yang jauh lebih relevan dan inklusif,” ujarnya di Jakarta, Kamis (11/12).
Program yang dilaksanakan pada April-Mei 2025 ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menyatukan pengetahuan lokal dengan sains modern, (2) memastikan akses informasi kebencanaan bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, lansia, dan anak-anak, serta (3) mendokumentasikan pengetahuan lokal agar tidak punah. “Pengetahuan lokal adalah warisan berharga. Jika tidak dicatat dan diajarkan kembali, ia akan hilang,” tambah Irine.
Pelaksanaan program dilakukan melalui serangkaian lokakarya partisipatif di Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, dan Yogyakarta. Masyarakat dan kelompok rentan diajak untuk menggali pengetahuan lokal, meninjau data ilmiah, dan panduan menyusun literasi bencana yang mudah dipahami. “Kami memastikan proses belajar bersifat dua arah. Komunitas bukan hanya penerima, tetapi produsen pengetahuan,” jelas Irine.
Urgensi program ini sangat tinggi mengingat Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Menurut Irine, mengandalkan pendekatan teknokratis saja tidak cukup. “Mitigasi harus berbasis komunitas. Kearifan lokal adalah alat adaptasi yang terbukti bertahan selama ratusan tahun,” tegasnya. Inklusivitas menjadi prinsip kunci agar setiap warga negara dapat mengakses pengetahuan dan berpartisipasi dalam kesiapansiagaan.
Program ini telah menghasilkan berbagai keluaran, seperti panduan literasi kebencanaan, modul pelatihan, dan media pembelajaran yang ramah bagi anak dan kelompok rentan. Manfaatnya sudah terlihat dari meningkatnya kapasitas masyarakat dalam mengenali risiko hingga terbentuknya jejaring kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, akademisi, dan BRIN. “Kami ingin literasi kebencanaan menjadi budaya, bukan sekadar proyek,” pungkas Irine.
MOST UNESCO–BRIN juga memberikan rekomendasi praktis untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, seperti mendokumentasikan pengetahuan lokal melalui wawancara keluarga, membuat peta risiko berbasis warga, mengadakan diskusi rutin, membangun sistem peringatan dini komunitas, dan menyediakan tugas siaga bencana di setiap rumah. Pendekatan edukatif melalui permainan dan cerita rakyat juga dianjurkan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak.
Program ini merupakan langkah jangka panjang menuju budaya sadar bencana yang inklusif dan berkelanjutan. “Dengan menyatukan ilmu modern dan kearifan lokal, kita tidak hanya membangun masyarakat yang tangguh, tetapi juga menjaga identitas budaya kita tetap hidup,” tutup Irine. PALING UNESCO–BRIN berharap program ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat siaga bencana. ( Sirana.id)
Baca juga: https://sirana.id/banjir-besar-sumatra-dianggap-akibat-krisis-agraria-dan-ekologis-yang-dibiarkan/















