SAMARINDA – Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Kaltim memang berhasil turun 0,062 poin. Namun, pekerjaan rumah untuk memastikan perempuan mengakses kesejahteraan, masih menumpuk. Pasalnya kemampuan perempuan untuk mengakses pendidikan masih lebih rendah. Apalagi sejak anak-anak, banyak perempuan yang sudah menanggung beban perawatan dan domestik.
Badan Pusat Statistik mencatat pada 2025 IKG tercatat sebesar 0,379 atau turun 0,062 poin dibandingkan tahun 2024. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan capaian pada dimensi kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan.
Membaiknya kesetaraan gender di Kalimantan Timur ditunjukkan melalui peningkatan sejumlah indikator, khususnya pada dimensi kesehatan reproduksi.
“Proporsi perempuan pernah kawin usia 15–49 tahun yang melahirkan hidup tidak di fasilitas kesehatan (MTF) dan proporsi perempuan pernah kawin usia 15–49 tahun yang saat melahirkan hidup pertama berusia kurang dari 20 tahun (MHPK20) mengalami perbaikan,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai, dalam keterangan resminya.
Namun, persentase penduduk perempuan 25 tahun ke atas yang lulus SMA justru menurun dari 50,23 persen menjadi 49,68 persen. Padahal, persentase penduduk laki-laki usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan minimal SMA meningkat dari 56,32 persen pada 2024 menjadi 57,95 persen pada 2025.
Dari data itu, artinya pendidikan untuk perempuan masih tertinggal dari laki-laki. Perempuan di Kalimantan Timur yang menyelesaikan pendidikan SMA sederajatnya tak sampai setengah.
Salah satunya Lisa (27), warga Samarinda yang terpaksa tak melanjutkan pendidikan SMA-nya. Saat itu ekonomi keluarganya lagi tidak bagus. Untuk lanjut sekolah, rasanya cukup sulit. Sementara dia punya tiga adik. Perempuan berjilbab ini pun mengalah.
“Jadi saya kerja saja di toko jilbab sambil bantu jaga adik. Dapat 3 atau 4 tahun kerja, saya menikah,” cerita Lisa.
Meski sudah memiliki dua anak, Lisa berkeinginan lanjut Paket C. Dia yang kini jadi ibu rumah tangga itu, ingin bekerja lagi setelah anak bungsunya masuk sekolah.
Kondisi Lisa, tak hanya dialaminya sendiri. Ada Rohmah (32) yang hanya menyelesaikan sekolah dasar. Saat itu, dia mengaku lebih ingin menghasilkan uang ketimbang belajar. Pasalnya, perpisahan orangtuanya membuat kehidupannya susah.
“Jadi ya mau kerja saja. Bantu mamak (ibu) waktu itu. Alhamdulillah biar enggak sekolah, bisa menghasilkan dan bantu ibukolkolah,” cerita perempuan yang tinggal di Kecamatan Samarinda Seberang tersebut.
Masih dari data BPS, Rerata lama sekolah (RLS) perempuan Kaltim 2025 pun hanya 9,83 tahun. Mirisnya, angka itu tak lebih baik dari RLS laki-laki pada 2018 lalu yang mencapai 9,86 tahun.
Seiring dengan RLS yang lebih singkat dari laki-laki, anak perempuan di Kaltim yang bekerja juga lebih banyak dibanding laki-laki. Masih dari data BPS yang bertajuk Profil Anak yang Bekerja Provinsi Kalimantan Timur 2023. Hasil Sakernas Agustus Tahun 2023, penduduk usia 10-17 tahun di Kaltim ada 536.029 jiwa. Dari angka itu, 26.648 anak di antaranya bekerja. Mayoritas adalah perempuan yaitu 15.258 anak perempuan.
Masih dalam publikasi BPS Kaltim, jika dilihat dari jenis kelamin, dapat diketahui bahwa dari anak usia 10-17 tahun yang bekerja dan berpendidikan SD kebawah, lebih didominasi oleh anak perempuan.
“Hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh anak perempuan di usia tersebut sering kali lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan yang kurang terlihat. Seperti merawat saudara, memasak, atau bekerja di sektor informal. Tanggung jawab ini sering kali dianggap sebagai bagian dari peran tradisional perempuan dalam masyarakat,” tulis BPS dalam publikasinya. (Nofiyc/sirana.id)















