Samarinda – Bali kerap dipromosikan ke dunia sebagai pulau dengan lanskap alam yang indah dan budaya yang lestari. Namun di balik citra tersebut, masyarakat lokal menghadapi tekanan serius akibat alih fungsi lahan dan pembangunan yang terus meluas. Realitas ini sejatinya bukan hanya milik Bali. Apa yang terjadi di Pulau Dewata hari ini memiliki kemiripan kuat dengan kondisi Kalimantan Timur, provinsi yang selama puluhan tahun menjadi ruang eksploitasi industri tambang dan ekstraktif berskala besar.
Penggagas acara, Dwi Agung Wicaksono, mengungkapkan pameran foto bertajuk ‘Risau’ itu digelar oleh Komunitas Dadakan (Kodak), dengan berdiri di tengah persawahan, simbol ruang hidup agraris masyarakat Bali yang kini berada di bawah tekanan alih fungsi lahan. Karya ini disusun dari bambu dan alang-alang, material lokal yang merepresentasikan keseimbangan, perlindungan, dan hubungan manusia dengan alam.
Pesan yang disampaikan seniman Ubud, I Wayan “Nano” Sudarna Putra dengan karya ikoniknya, “Not For Sale” mengatakan, jelas tanah bukan sekadar komoditas yang bisa diperjualbelikan tanpa batas. Pesan tersebut beresonansi sangat kuat dengan kondisi Kalimantan Timur.

Di provinsi ini, pertambangan batubara hadir hampir di setiap wilayah, dari kawasan hutan, daerah aliran sungai, hingga permukiman warga. Lubang-lubang tambang yang dibiarkan terbuka, pencemaran air, konflik lahan, serta hilangnya ruang hidup masyarakat adat dan lokal menjadi konsekuensi nyata dari model pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam. Tanah di Kalimantan Timur tidak hanya berubah fungsi, tetapi juga kehilangan daya dukungnya bagi kehidupan.

Dalam konteks ini, Kalimantan Timur diwakili oleh Rahma Alieffiyandi, jurnalis yang menjadi salah satu peserta dari daerah tambang yang berhasil menembus pameran nasional tersebut. Foto lubang tambang di Kaltim membawa pengalaman langsung dari wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi penyangga kebutuhan energi nasional, namun harus menanggung beban kerusakan ekologis dan sosial yang berkepanjangan.
Melalui keterlibatan seluruh provinsi, pameran ini menunjukkan bahwa persoalan eksploitasi tanah bukan isu sektoral atau lokal semata. Dari Bali dengan tekanan pariwisata, hingga Kalimantan Timur dengan tambang yang mengurung ruang hidup, pola yang muncul serupa: tanah diperlakukan sebagai objek ekonomi, bukan sebagai dasar kehidupan masyarakat.
Karya Not For Sale menjadi pengingat bahwa tanah yang dikeruk dan dijual, baik atas nama pembangunan maupun pertumbuhan ekonomi, menyisakan luka jangka panjang. Bagi Kalimantan Timur, pesan ini terasa mendesak. Di tengah masifnya tambang dan proyek ekstraktif, seni hadir sebagai bahasa lain untuk menyuarakan kegelisahan yang selama ini kerap diabaikan.
Instalasi ini menegaskan satu hal penting: tanah bukan sekadar sumber daya, melainkan identitas, ruang hidup, dan masa depan. Pesan yang relevan bagi seluruh Indonesia, namun terasa paling nyata di Kalimantan Timur yang hari ini masih bergulat dengan warisan panjang eksploitasi tambang. (Sirana.id)















