Sangatta – Sabtu siang (6/9/2025), Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (Harum) mengancam akan menghentikan aktivitas KPC jika jalan Sangatta-Bengalon, Kutai Timur. Untuk diketahui, KPC adalah penambang raksasa di Kutai Timur. Aktivitas pertambangan KPC pun bisa dilihat dari jalanan Sangatta-Bengalon.
Meski pertambangan batu bara di Kaltim, memberi cuan triliunan rupiah untuk para pengusaha, dan jadi sumber energi yang menerangi negara ini, namun hal ini tak sejalan dengan kondisi akses Kalimantan Timur. Jalan masih banyak yang rusak, dan juga banyak yang makin rusak karena pertambangan di sekitarnya.
Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang diakses dari website Satu Data Kalimantan Timur, per 2024, dari 2.745 ribu kilometer jalan nasional dan provinsi, hanya 798,6 kilometer yang kategorinya jalan baik. Sisa jalan Kalimantan Timur pun masuk kondisi sedang, rusak ringan, hingga rusak berat.
Warga tak hanya beradu dengan jalan rusak, tapi maut setiap saat karena truk-truk batu bara yang seharusnya tak lewat jalan umum. Juga jalan utama longsor akibat akivitas pertambangan di sekitarnya. Seperti saat Gubernur Rudy Mas’ud yang melewati jalan longsor di kawasan di Crossing 4 Sangatta-Bengalon Harum menghentikan laju kendaraannya.
Gubernur mengeluhkan beberapa titik pada jalur Sangatta-Bengalon sudah hampir putus. Kondisi ini tentu sangat berbahaya dan akan sangat merugikan masyarakat jika tidak segera dilakukan perbaikan dan pengalihan jalan baru. Akses satu-satunya ini yang menghubungkan Sangatta dan Bengalon atau akses Kalimantan Timur ke wilayah utara. Jalan ini menjadi jalur utama transportasi logistik masyarakat.
“Saya lihat bukan rawan lagi, tapi sudah putus sepotong. Tinggal sepotong saja lagi jalannya,” kritik Rudy lagi seperti dikutip dari unggahan Pemprov Kaltim.
Jika jalur yang hanya tinggal sepotong itu juga putus kata Gubernur, maka semua akses Sangatta-Bengalon akan putus. Termasuk ke arah Berau.
Gubernur yakin jalan putus itu hanya tinggal menunggu waktu. Pasalnya, saat mereka berhenti di jalur itu saja, beberapa kendaraan pengangkut alat berat melintas. Tonase besar yang banyak melintas akan mempercepat kerusakan jalan. Rudy pun mengancam akan menghentikan aktivitas tambang raksasa di Kutai Timur itu, jika tak segera ambil tindakan perbaikan.
“Kalau dalam waktu dekat tidak ada tindak lanjutnya, maka kami minta kegiatan tambang PT KPC kita hentikan sampai jalannya dibenahi,” kata adik Hasanuddin Mas’ud tersebut.
Sementara itu, longsor di jalan Sangatta – Bengalon, bukan hal baru di Kalimantan Timur. Belum lama ini, warga Sangasanga, Kutai Kartanegara juga kepayahan akibat jalan utama menuju kelurahan Pendingin, Sangasanga longsor.
Tidak hanya soal jalan yang rusak atau longsor. Di beberapa lokasi, masyarakat juga banyak yang dipaksa “mengalah”. Pasalnya perusahaan batu bara meminta tukar guling jalan utama, demi kelancaran pertambangan mereka. (sirana.id)















