Samarinda – Data dari Dinas Pariwisata Kaltim, PDRB Sektor pariwisata di Kaltim pada 2023, hanya 1,74 persen. Cuma meningkat 0,13 poin dari tahun 2022 yang hanya berkontribusi 1,61 persen. Terpaut jauh dari tulang punggung PDRB Kaltim saat ini yaitu sektor pertambangan dan penggalian yang pada 2023 mencapai 43,19 persen. Sementara, dunia lagi menjalankan komitmen iklim dengan menurunkan konsumsi energi fosil. Termasuk batu bara dan migas. Kaltim yang bergantung ke sektor pertambangan ini, harus bergegas melakukan transformasi ekonomi. Peluang ekowisata Kalimantan Timur pun harus dikatrol.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau Dicky Edwin Hiendarto menjelaskan ketergantungan suatu daerah pada satu sektor itu berbahaya. Apalagi, beberapa wilayah di Kaltim diketahui ketergantungannya pada sektor energi fosil sudah menahun.
“Seperti Kutai Kartanegara atau Paser, itu ketergantungan pada sektor pertambangan cukup besar. Kalau misal tidak ada permintaan atau katakan harga batu bara menurun, pasti ekonominya terdampak sekali,” sambungnya dalam diskusi terpumpun bertajuk “Membangun ekowisata berkelanjutan untuk menurunkan emisi dan jejak karbon di Kalimantan Timur.” Di Hotel Aston Samarinda, pada Kamis 17 Juli 2025 yang diselenggarakan Yayasan Mitra Hijau (YMH).
Untuk diketahui, YMH adalah salah satu lembaga yang sedang mengerjakan program isu transisi energi berkeadilan di Kalimantan Timur.
Masih dalam agenda yang sama, Akademisi Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Fajar Alam mengatakan, sayangnya di Kalimantan Timur ini konsep ekonominya masih seperti zaman purba yaitu food gathering bukan food processing. Artinya, masih mengumpulkan apa yang ada di alam. Bukan memprosesnya dahulu untuk jadi sumber ekonomi. Sayangnya, kegiatan ekonomi food gathering ini memiliki rekam jejak emisi yang sangat besar. Dampaknya, aneka bencana iklim dan kenaikan suhu global yang tidak dapat dihindari. Maka dari itu, harusnya arah ekonomi ke arah yang berkelanjutan. Ekowisata pun disebut jadi opsi. Sebab, Kaltim memiliki peluang ini dan belum digarap penuh. Di sisi lain, ekonomi sektor ini juga rendah emisi.
“Juga menyuguhkan atraksi alam dan budaya juga tidak hanya berdampak pada transformasi ekonomi. Tetapi juga wisata edukasi dan upaya konservasi alam,” ucapnya.
Selain itu, keberadaan ekowisata, juga bisa menjadi tameng atau jadi nilai penolakan jika suatu daerah hendak ditambang.
Sementara itu, Pegiat wisata Kalimantan Timur Syafruddin Pernyata, mengatakan untuk membangun destinasi wisata, konsep berkelanjutan bisa diterapkan sesuai dengan karakteristik destinasi. Misal menggunakan panel surya untuk kebutuhan listrik. Apalagi, jika lokasi wisata jauh dari akses PLN, opsi ini bisa jadi solusi. Selain itu, Syafruddin juga menekankan soal manajemen sampah dan daur ulang.
“Jadi, tidak ada bakar-bakar sampah lagi,” sebutnya.
Ekowisata juga bisa menjadi daya tarik khusus. Dengan mengusung wisata yang ramah lingkungan, akan menyasar pasar wisatawan yang menyukai konsep alam dan ramah lingkungan. Hal ini juga akan menjadi kontribusi pelaku wisata untuk isu iklim.
Sementara itu, Imam Rusdi Hidayat dari Dinas Pariwisata Kaltim memaparkan Ekowisata di Kaltim diarahkan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memiliki peran penting dalam pengelolaan potensi pariwisata di tingkat desa. Apalagi, Kaltim memiliki potensi ekowisata cukup banyak. Dari gunung hingga bawah laut. Misal Gunung Boga di Paser, karst Sangkulirang, wisata sungai hutan di hulu mahakam, atau wisata bahari di sepanjang pesisir timur Pulau Kalimantan. Keindahan wisata ini, harus didukung dengan kondisi alam yang baik. Kerusakan alam, akan berdampak pada destinasi. Maka dari itu, pembangunan destinasi wisata juga harus memerhatikan aspek lingkungan. (Sirana.id)
Baca Juga: Mencari Peluang Ekowisata Kalimantan Timur Jadi Sumber Cuan Baru















