Kalimantan Timur harus mengarahkan sumber ekonominya ke arah yang berkelanjutan. Ekowisata pun dilirik. Katanya, sektor ini punya kans besar. Tetapi, jika menilik dari data yang ada, kontribusi pariwisata Kaltim tampaknya bakal jadi pekerjaan rumah besar dan harus dikatrol sekuat tenaga. Bagaimana tidak, PDRB Sektor pariwisata pada 2023, hanya 1,74 persen. Cuma meningkat 0,13 poin dari tahun 2022 yang hanya berkontribusi 1,61 persen. Terpaut jauh dari tulang punggung PDRB Kaltim saat ini yaitu sektor pertambangan dan penggalian yang pada 2023 mencapai 43,19 persen.
Beragam cara coba diformulasikan kelompok-kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Kalimantan Timur untuk menarik turis dan menggerakkan ekonomi di wilayahnya. Seperti Pokdarwis Berani Menata Tertata (BMT) dari Desa Sangkuliman, Kutai Kartanegara. Desa mereka berseberangan dengan Desa Pela yang sudah masyhur duluan untuk wisata Pesut Mahakam. Pokdarwis BMT pun putar otak di isu ekowisata Kalimantan Timur, agar desa mereka tidak sekadar jual wisata Pesut Mahakam dan bisa bersaing.

“Kami menggaungkan plan desanya ke depan. Tidak hanya tujuan wisatanya,” kata Ketua Pokdarwis BMT Rozali dalam diskusi terpumpun bertajuk “Membangun ekowisata berkelanjutan untuk menurunkan emisi dan jejak karbon di Kalimantan Timur.” Di Hotel Aston Samarinda, pada Kamis 17 Juli 2025 yang diselenggarakan Yayasan Mitra Hijau (YMH).
Rozali memaparkan, Pokdarwis memastikan Desa Sangkuliman tertata dan nyaman untuk dikunjungi. Sampah pun diolah, agar tidak berakhir di sungai. Potensi-potensi pulau di tengah danau, juga mereka riset untuk wisata.
“Kami juga mendata semua pohon kami di desa. Mendata lingkungan. Lalu kami menggaungkan desa wisatanya,” sambungnya.
Namun, upaya Pokdarwis BMT ini harus didukung infrastruktur menuju ke Desa Sangkuliman dari pusat kota. Akomodasi paling praktis ke desa ini adalah melalui jalur darat ke arah Kota Bangun, Kutai Kartanegara dari Samarinda, yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Juga, suplai listrik yang konsisten. Sayangnya, di Desa Sangkuliman, aliran listrik PLN kerap mati jika air sungai sedang pasang. Menurutnya, opsi yang memungkinkan adalah memasang tenaga surya untuk energi listrik alternatif saat aliran PLN mati karena air pasang.
Sayangnya, urusan infrastruktur ini memang masih jadi masalah utama dalam promosi wisata di Kalimantan Timur. Jadi, tak di Sangkuliman saja. Hal ini disampaikan Imam Rusdi Hidayat dari Dinas Pariwisata Kaltim dalam acara yang sama. Imam mengatakan, Kaltim memang memiliki sejumlah kendala karena destinasi wisata biasanya berada di wilayah yang cukup jauh dan akses jalannya tak bagus. Maka dari itu, salah satu strategi arah pengembangan wisata adalah peningkatan kualitas akses menuju daya tarik wisata, pengembangan sarana dan prasarana transportasi.
“Serta peningkatan fasilitas pendukung dan atraksi yang menarik bagi wisatawan,” kata dia.
Hal ini diamini dari data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang diakses dari website Satu Data Kalimantan Timur, dari 2,745 ribu kilometer jalan nasional dan provinsi, hanya 798,6 kilometer yang kategorinya jalan baik. Sisa jalan di Kalimantan Timur pun masuk kondisi sedang, rusak ringan, hingga rusak berat. Kondisi jalan, hanya satu dari sekian banyak elemen infrastruktur pariwisata. Masih ada soal kondisi sarana prasarana di lokasi wisata. Mulai dari toilet dan sarana pendukung lainnya. (Sirana.id)
baca juga: Ekowisata Untuk si Mamalia Air Tawar yang Hanya Ada di Kukar















