Sangasanga, Kutai Kartanegara — Tak hanya dikenal sebagai wilayah tambang tua, Sangasanga di Kutai Kartanegara juga menyimpan potensi wisata sejarah yang menarik. Salah satunya adalah Situs Gunung Selendang, destinasi edukasi yang menyuguhkan jejak peradaban masa lampau di Kalimantan Timur.
Terletak hanya sekitar satu jam dari Kota Samarinda, situs ini menyimpan ratusan tajau atau guci keramik kuno yang menjadi wadah penguburan manusia ratusan tahun silam. Temuan ini menjadi bukti bahwa di kawasan ini telah tumbuh peradaban jauh sebelum era industri masuk.
Gunung Selendang ini bukan hanya situs arkeologi, tapi juga ruang belajar terbuka. Banyak siswa dan mahasiswa yang datang untuk mengenal sejarah lokal.
Akses menuju lokasi terbilang mudah. Dari Samarinda, pengunjung hanya perlu melintasi jembatan di perbatasan Palaran dan Sangasanga. Tak jauh dari jembatan, di sebelah kiri ada papan petunjuk bertuliskan “Situs Gunung Selendang” menandai bangunan sederhana yang kini difungsikan sebagai museum mini.

Di dalamnya, pengunjung bisa melihat langsung bentuk-bentuk tajau yang digunakan sebagai tempat kubur. Ada dua jenis utama yang ditemukan: tajau ramping dengan bibir bergelombang dan tajau berbadan tambun dengan bibir polos. Beberapa di antaranya bahkan memiliki ornamen khas seperti naga dan motif bunga, yang menunjukkan keterkaitan dengan keramik impor dari Cina Selatan pada abad ke-17 hingga 18.
Dikenal juga dengan sebutan tempayan Martavan—nama pelabuhan pengapalan keramik di Myanmar—guci-guci ini dulunya digunakan sebagai media penguburan oleh masyarakat pra-Islam di wilayah Kalimantan.
Situs Gunung Selendang Sangasanga tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada bulan Mei tahun 2009 dan mulai dilakukan pengalian arkeologis pada tahun 2010 oleh Balai Arkeologi Banjarmasin bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur. Penggalian tersebut berhasil menemukan tajau (wadah kubur) berbahan stoneware sebanyak 51 buah.
Saat meresmikan cagar budaya ini, beberapa tahun lalu, Bupati Kukar Edi Damansyah saat itu mengatakan, cagar budaya yang merupakan media untuk memberikan informasi keberadaan sejarah yang ada di Sangasanga maupun di Kukar.
“Saya berharap keberadaannya bisa tertata dengan baik, apalagi Sangasanga mempunyai sejarah tentang perjuangan yang diperingati setiap tahunnya yaitu pada tanggal 27 Januari,” kata Edi Damansyah.
Pemerintah daerah dan sejumlah komunitas sejarah mulai melirik potensi situs ini untuk dikembangkan lebih lanjut. Harapannya, Gunung Selendang bisa menjadi salah satu pusat pembelajaran sejarah dan budaya di Kalimantan Timur, sekaligus menambah ragam destinasi wisata non-eksploitasi di kawasan yang dulunya didominasi industri tambang. (Advertorial/Dinas Pariwisata Kukar)















