Samarinda – 12-13 Mei 2025, jadi momok ribuan warga Samarinda. Berbagai kecamatan di kota ini, dikepung banjir. Sejumlah titik permukiman dan jalan jadi longsor. Juga, beberapa nyawa hilang akibat bencana ini.
Kisah menyedihkan datang pada 12 Mei 2025, satu keluarga di Jalan Belimau, Kecamatan Sungai Pinang ditimpa tanah. Dari enam korban, empat orang diantaranya tewas. Tidak hanya dari tanah yang bergeser, aliran banjir juga menghanyutkan nyawa anak-anak. Media sosial dipenuhi upaya pencarian. Mulai dari anak EZ di Palaran, dan NS, balita dua tahun yang terseret arus banjir di Jalan Suryanata, Bukit Pinang, Samarinda.
Hingga, 13 Mei 2025, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan NS. Dia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah dua hari dilakukan pencarian oleh unsur SAR Gabungan. Operasi SAR dimulai sejak laporan diterima pada hari Minggu (11/5), dengan pencarian difokuskan di sepanjang aliran sungai sejauh dua kilometer dari titik terakhir korban terlihat.
Korban berhasil ditemukan pada Selasa pagi (13/5) pukul 10.45 WITA oleh Tim SAR Gabungan dalam radius sekitar 20 meter dari LKP, Setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga korban. banjir di tepian kota Samarinda (sirana.id)Danru Operasi SAR, Riqi Efendi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Proses pencarian cukup menantang karena arus sungai sangat deras dan air sangat keruh, namun berkat kerja sama dan sinergi dari semua pihak, korban akhirnya berhasil ditemukan,” ujar Riqi di lokasi operasi.
Banjir dan longsor bukan hal baru di Samarinda. Beberapa kasus banjir besar pernah terjadi di kota ini. Pada 1998, Samarinda pernah didera banjir akibat Waduk Benanga di utara jebol. Hampir seminggu Kota Tepian lumpuh. Lalu, pada 2018 ribuan warga terdampak banjir besar terutama di Loa Bakung dan Samarinda Seberang. Pada 2020, saat pandemi Covid-19 dan seharusnya bisa merayakan Lebaran, sebagian warga Samarinda juga dirundung nestapa. Banjir mengepung rumah mereka berhari-hari. Apalagi warga di sekitar kawasan Perumahan Griya Mukti dan Perumahan Bengkuring yang kerap terkepung banjir bahkan hingga seminggu lebih. Saban tahun, banjir selalu mengunjungi warga Samarinda. Terakhir, data bencana BPBD Samarinda pada 2024 memaparkan pada 2024 terdapat 15 kejadian banjir dan 61 kejadian tanah longsor.
Upaya dilakukan. Bahkan, banjir Samarinda sempat masuk ke proyek strategis nasional (PSN) melalui program normalisasi Sungai Karang Mumus sejak 2019. Namun, ternyata tidak mudah dan program ini tak ada lagi di daftar PSN.
Sementara itu, pada keterangan tertulis 30 Januari 2025, yang dimuat di laman Pemerintah Kota Samarinda, menyebut mereka telah berhasil mengurangi luas genangan banjir dari 482 hektare pada 2022 menjadi 314 hektare di awal 2025.
Saat itu, Wali Kota Andi Harun mengungkapkan kendala dalam upaya penanganan banjir, salah satunya terkait aspek kepemilikan lahan.
“Terdapat beberapa area bersertifikat yang berada di atas aliran sungai. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut bersama BPN agar tidak menghambat proses normalisasi,” tambahnya.
Selain alasan sungai-sungai yang perlu dinormalisasi, sedimentasi di Waduk Benanga, dan habit masyarakat soal buang sampah. Sebab banjir Samarinda karena area serapan air yang berkurang jadi alasan utama. Anda bisa melihat bagaimana Samarinda bisa berubah dalam citra Google Earth berikut ini.
a.citra Google Earth Samarinda pada 1996

b. Citra Google Earth pada 2020

Dari dua citra itu, bisa terlihat bagaimana ruang hijau Samarinda dan sekitarnya telah menjelma dari pepohononan menjadi citra kecokelatan dan berbagai lubang tambang tanpa reklamasi.
Akibat berubahnya ruang serapan air ini, tidak hanya pada kemampuan menyerap air. Tetapi juga, sedimentasi-sedimentasi yang makin banyak membawa lumpur ke waduk dan sungai. Jika tak ada langkah pasti untuk penanganan banjir. Walhasil, warga Samarinda harus menelan nelangsa dan berdebar tiap hujan deras datang. (Sirana.id)















