Tenggarong – Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, Kratom atau lebih sering mereka sebut kedemba, bukan tumbuhan yang asing. Tumbuhan yang kerap ditemui di dekat sungai itu, dipercaya sebagai salah satu obat dan turun-temurun dipakai untuk ibu yang baru melahirkan. Namun, belakangan kratom itu jadi komoditas menguntungkan karena dapat diekspor. Sayangnya, sempat dilarang oleh Badan Narkotika Nasional. Syukurnya, kini sudah bisa diekspor kembali.
Permintaan pasar dunia terhadap kratom semakin besar. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor kratom selalu mengalami pertumbuhan dengan tren sebesar 15,92 persen per tahun sejak 2019.
Di Kaltim, wilayah yang potensial untuk petani kratom adalah Kukar. Bahkan, di Kukar sudah ada sentra produksi kratom. Salah satunya milik Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) Cabang Kalimantan Timur di Tenggarong Seberang.
CEO Koperasi Koprabuh Yohanis Walean menyatakan bahwa produk kratom sudah masuk kategori herbal dan legal ekspor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, dan potensinya bahkan lebih besar dari sawit.
Menurut dia, penanaman kratom pun terbilang tidak rumit. “Kuncinya, harus dekat sumber air, daerah aliran sungai, rawa, dan tepi danau,” jelas dia.
Dia juga menjelaskan, walaupun terendam banjir selama tiga bulan, pohon kratom tetap tumbuh bertahan. Sementara itu, Kratom, atau dikenal dengan nama ilmiah Mitragyna speciosa, telah lama digunakan oleh masyarakat di beberapa wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk keperluan medis tradisional. Daun ini dipercaya memiliki efek analgesik, stimulan, dan dapat membantu mengatasi kecanduan opioid.
Peneliti dari Pusat Riset Vaksin dan Obat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Masteria Yunovilsa Putra menjelaskan, opioid adalah sekelompok obat yang bekerja pada sistem saraf pusat untuk menghasilkan efek pereda nyeri dan euphoria.
Banyak pengguna kratom melaporkan bahwa daun ini membantu mereka mengatasi rasa sakit kronis, kecemasan, dan depresi. Selain itu, kratom juga disebut-sebut sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan obat-obatan opioid yang dapat menyebabkan ketergantungan parah. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa senyawa pada kratom memiliki potensi menyebabkan efek samping seperti mual, kejang dan lain sebagainya
“Kratom juga menghasilkan efek analgesik . Efek analgesik ini disebabkan oleh kandungan alkaloid utamanya yaitu mitragynine dan turunannya seperti 7-hydroxymitragynine,” jelasnya. (advertorial/Diskominfo Kukar)















