TENGGARONG – Upaya pelestarian pesut Mahakam di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), mendapat perhatian dan dukungan serius dari pemerintah pusat.
Melalui skema konservasi yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), ekosistem pesut Mahakam diharapkan tak hanya terjaga, tetapi juga mengalami peningkatan populasi dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kukar, Ridha Fatrianta, mengungkapkan pesut Mahakam yang hidup di perairan Sungai Mahakam, khususnya di sekitar Desa Pela, menjadi salah satu andalan utama dalam pengembangan wisata alam di Kukar
“Kemarin itu kita mendapat dukungan dari pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian Lingkungan Hidup, untuk mendukung konservasi pesut Mahakam di Desa Pela. Ini sangat penting karena habitat pesut di Kukar adalah satu-satunya yang tersisa di Indonesia,” ungkapnya.
Desa Pela selama ini dikenal dengan daya tarik susur sungai yang memungkinkan wisatawan bisa melihat langsung habitat asli pesut Mahakam. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas budaya dan kehidupan masyarakat lokal seperti menyaksikan nelayan tradisional menangkap ikan, menikmati pemandangan matahari terbenam di Danau Semayang, serta mengikuti kegiatan masyarakat setempat.
“Desa Pela itu bukan hanya tentang melihat pesut. Tapi bagaimana pengunjung bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat desa, mulai dari aktivitas nelayan, panorama sunset di danau, sampai interaksi budaya,” jelasnya.
Keterlibatan lintas sektor dalam pengembangan wisata berbasis ekologi di Desa Pela menjadi kunci keberhasilan program ini. Sejumlah LSM dilibatkan sebagai tenaga ahli, bahkan beberapa di antaranya diundang langsung oleh kementerian untuk memberikan dukungan teknis dan strategis dalam menciptakan ekosistem pelestarian pesut Mahakam.
Lebih lanjut, Ridha mengungkapkan bantuan dari pemerintah pusat tidak hanya bersifat simbolis atau administratif. Akan ada program-program konkret yang disusun secara terarah dengan target utama yakni peningkatan populasi pesut Mahakam.
“Kalau tidak salah, nantinya akan ada program-program nyata yang disusun. Outcome-nya itu bukan hanya menjaga kelestarian, tapi juga meningkatkan populasi pesut Mahakam. Berdasarkan estimasi, populasi yang sekarang sekitar 66 ekor tiap tahun bisa mengalami peningkatan,” ujarnya.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) sendiri merupakan mamalia air tawar langka yang hanya ditemukan di wilayah Sungai Mahakam. Statusnya saat ini tergolong kritis atau critically endangered menurut daftar merah IUCN.
Pelestarian pesut tidak hanya penting dari sisi konservasi, tetapi juga menjadi bagian integral dari pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kukar. (adv/Dinas pariwisata Kukar)















