Samarinda – Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud (Harum) mengeluhkan kecilnya dana bagi hasil (DBH) batu bara Kaltim. Selain batu bara, sumber daya alam baik migas, maupun kelapa sawit juga berkontribusi besar untuk pendapatan negara.
Hal itu, dia sampaikan saat menerima kunjungan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPb) Provinsi Kaltim, Kementerian Keuangan, Edi Mulyadi beserta jajarannya, di Kantor Gubernur Kaltim di Samarinda, Kamis (24/7/2025).
Rudy melanjutkan, kontribusi Kaltim dari sektor batu bara, menurutnya mencapai nilai sebesar Rp850 triliun. Bahkan, 60 persen pasokan batu bara nasional berasal dari Kaltim.
”Namun dari jumlah itu, yang kembali ke Kaltim sangat kecil,” kata Gubernur.
Sementara Kaltim masih dihadapkan dengan aksesibilitas antar wilayah yang masih belum baik, terutama di daerah pedalaman seperti Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Transportasi hanya mengandalkan jalur sungai.
Hal tersebut tentunya berimbas harga-harga kebutuhan pokok di wilayah yang berbatasan dengan negara bagian Serawak, Malaysia itu menjadi sangat mahal.
”Asal tahu, harga semen di Mahulu bisa mencapai Rp 1 juta persaknya,” sebut Gubernur.
Di sektor sawit, penerimaan DBH sawit juga dirasakan minim. Dari luasan lahan sawit seluas 3 juta hektar, sebanyak 1,5 juta hektar di antaranya sudah berproduksi.
”Namun DBH Sawit hanya sebanyak Rp 28 miliar, bagaimana kita bisa membangun Kaltim yang luas ini,” keluh Gubernur.
Belum lagi dampak sosial dan lingkungan akibat penambangan batu bara yang dirasakan masyarakat yang harusnya menjadi pertimbangan Pusat untuk meninjau DBH Kaltim yang timpang itu.
Menurut Gubernur Harum, banyaknya kebijakan pusat baik berupa Kepmen/Permen, membuat daerah tidak bisa berbuat dan ditariknya kewenangan daerah ke pusat.
“Kita disuruh mandiri, tapi tidak diberi kewenangan. Akibatnya daerah tidak bisa mengatur wilayahnya sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada awal 2024, di Kaltim ada 221 ribuan penduduk yang tergolong miskin. Mereka hidup kurang dari Rp833.955 untuk tiap orang per bulan. Kekayaan sumber daya alam (SDA) di Kaltim memang tak berbanding lurus dengan upaya menyejahterakan seluruh masyarakatnya. Kemiskinan masih ada, sekolah tak layak masih ada, dan pengangguran juga banyak. Begitu pun dengan bencana ekologis dan kematian puluhan anak-anak di lubang tambang.
Beberapa orang terkaya di negeri ini, berhasil menambah tumpukan kekayaannya dari sumber daya alam Kalimantan Timur. Misalnya pemilik Harita Group melalui PT Lana Harita Indonesia yang beroperasi di Samarinda dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur terafilisasi dengan Pan-United Investment Pte. Ltd, Singapura (10%), Lanna Resources Public Co. Ltd, Thailand (55%), dan perusahaan Indonesia milik keluarga Lim Hariyanto, PT Harita Mahakam Mining (35%).
Tentu tak lupa Dato’ Low Tuck Kwong pemilik Bayan Resources yang dijuluki The Coal King. Dia melejit dan sempat jadi orang tajir se-Indonesia. Walau kini turun peringkat, dia masih dalam jajaran orang terkaya di Indonesia, berkat tumpukan batu bara yang mayoritas dikeruknya di Kaltim. Dari laman Bayan, mereka telah memproduksi lebih dari 45 juta ton pada 2023. Naik dibandingkan 2022 yang hanya 38,9 juta ton. (sirana.id)
Baca juga: Orang Kaya di Indonesia dan 221 Ribu Rakyat Miskin Kaltim















