Muara Badak – Roda kendaraan berputar di jalan Desa Tanjung Limau, Muara Badak menuju arah Marangkayu, Kutai Kartanegara. Namun, roda tiba-tiba terhenti. Iyan, warga Desa Tanjung Limau langsung menunjuk arah semak hutan mangrove di sisi kanan. Sekelompok bekantan pun langsung asyik melompat dan mengunyah daun muda.
Iyan, yang juga turut andil dalam kegiatan penanaman kembali mangrove di kawasan ini, menyebut bekantan kerap dijumpai di sini. Ada pula wisatawan yang sengaja datang untuk bersua bekantan. Sebab, di sini tak perlu jauh-jauh berjalan, pengunjung bisa bertemu langsung dengan bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung besar yang menjadi ikon konservasi di daerah pesisir.
Ekowisata ini menjadi daya tarik baru bagi pencinta alam dan fotografer satwa liar. Mereka bisa berjalan kaki di antara jembatan yang dikelilingi mangrove menuju pantai. Atau bisa juga dengan menggunakan perahu kecil, wisatawan diajak berkeliling menyusuri sungai yang membelah hutan bakau. Jika beruntung, mereka bisa melihat sekawanan bekantan bergelantungan di dahan atau melompat dari satu pohon ke pohon lain.
“Biasanya pagi atau sore bisa ketemu,” kata dia.

Namun, untuk berjumpa dengan bekantan, perlu cara tersendiri. Selain mengetahui lokasi dimana mereka sering muncul dan waktu kemunculannya, bekantan juga tak bisa langsung didekati. Mereka akan segera pergi. Maka, mereka bisa diamati jarak jauh saja. Namun, keberadaan bekantan menjadi nilai tambah pada sektor pariwisata di wilayah ini. Jika banyak orang datang untuk berwisata ke pantai dan memancing, menambah daftar wisata edukasi mangrove dan edukasi bekantan, akan makin menarik wisatawan. Sebab, ketika pengunjung datang ke Muara Badak, mereka tidak hanya dimanjakan angin sepoi-sepoi, deburan ombak, atau sensasi strike saat memancing, tapi juga edukasi baru.
Selain itu, Bekantan yang dilindungi oleh Undang-Undang Konservasi Nomor 5 Tahun 1990 ini kini menghadapi ancaman akibat perusakan hutan bakau dan alih fungsi lahan. Program wisata berbasis konservasi di Muara Badak diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi sumber ekonomi alternatif bagi warga setempat. (advertorial/Dinas Pariwisata Kukar)















