Jakarta — Fenomena iklim yang dikenal sebagai Godzilla El Nino diperkirakan akan berdampak pada musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia. Kondisi ini diprediksi semakin kuat dengan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang kemungkinan terjadi bersamaan mulai April mendatang, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menghadapi potensi tersebut, pemerintah mulai memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya melalui Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Langkah ini dilakukan agar distribusi bantuan pangan dapat segera dilakukan jika terjadi gangguan akibat anomali cuaca.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan stok pangan sebagai langkah antisipasi. Ia menegaskan, penguatan CPP menjadi prioritas agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi saat kondisi darurat.
Berdasarkan data terbaru per 25 Maret 2026, stok pangan strategis yang dikelola BUMN seperti Perum Bulog dan ID FOOD masih dalam kondisi cukup. Beras menjadi komoditas dengan jumlah cadangan terbesar, disusul jagung, minyak goreng, gula, daging, dan telur.
Stok beras saat ini tercatat mencapai lebih dari 4 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar pasokan berasal dari hasil produksi dalam negeri, termasuk penyerapan panen yang terus dilakukan sejak awal tahun.
Untuk komoditas lain, stok jagung juga cukup tinggi dengan mayoritas berasal dari produksi lokal. Pemerintah bahkan tidak lagi melakukan impor jagung pakan sejak 2025. Sementara itu, cadangan minyak goreng, gula, daging, dan telur juga terus diperkuat guna menjaga stabilitas pasokan.
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya kemandirian pangan di tengah ancaman krisis global. Ia menyebut setiap negara harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada impor.
Menurutnya, Indonesia saat ini berada di jalur yang tepat dengan terus mendorong produksi dalam negeri sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
Ke depan, stok pangan tersebut akan disalurkan melalui berbagai program pemerintah, seperti bantuan beras dan minyak goreng, serta Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah. Hingga akhir Maret, ratusan ribu penerima telah merasakan manfaat program ini.
Di sisi lain, BRIN mengingatkan bahwa dampak El Nino tidak akan merata di seluruh wilayah. Beberapa daerah berpotensi mengalami kekeringan, sementara wilayah lain justru bisa menghadapi peningkatan curah hujan. Oleh karena itu, langkah mitigasi lintas sektor dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan tersebut. (RA/Sirana.id)















