May, seorang gadis remaja, hidup bersama kakeknya yang dia panggil Tuha di sebuah rumah apung. May adalah korban dari konflik lahan. Dia dan kakeknya pun terusir dari tanah nenek moyang mereka. Orangtuanya mati karena konflik lahan itu. May, juga trauma dan tidak bisa menginjakkan kakinya di daratan.
Begitulah sinopsis film Tale of The Land yang kini diputar di Busan International Film Festival (BIFF). Film ini disutradarai oleh Loeloe Hendra dan dibintangi oleh Shenina Cinnamon juga Arswendy Bening Nasution.
Film mengambil latar belakang warga yang hidup di perairan Kalimantan. Syuting film dilakukan pada Januari 2024 di danau yang ada di wilayah Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Film ini pun banyak menggunakan bahasa Kutai.

Pengambilan gambar di film ini dilakukan seluruhnya di atas danau. Dalam salah satu cuplikan trailer filmnya, jukung kecil Tuha menepi saat tongkang raksasa dengan gunungan batu bara lewat di perairan tempat mereka hidup. Film ini pun menggambarkan tentang masyarakat adat yang terpinggirkan.

Juga, bagaimana kehidupan mereka di wilayah Mahakam Tengah (sebutan wilayah tempat syuting ini dilakukan) bergantung dengan alam. Bayang-bayang konflik lahan dan bagaimana industri-industri esktraktif telah berdampak pada kehidupan mereka.

Lokasi film di Mahakam Tengah adalah sebutan wilayah di sekitar Kutai Kartanegara, yang merepresentasikan bagian tengah aliran Sungai Mahakam. Wilayah ini kaya akan gambut dan juga danau kaskade Mahakam. Warganya mayoritas hidup dari kekayaan alam. Di sini pula, hidup berbagai satwa. Seperti kerbau kalang atau kerbau yang habitatnya di rawa. Juga, termasuk satwa langka yaitu Pesut Mahakam.

Selain menorehkan prestasi diputar di Busan, film ini juga dianggap sebagai cara mempromosikan bahasa Kutai dan wilayah Kutai. Selain itu, film ini juga mengangkat isu konflik lahan atau konflik agraria, yang telah banyak terjadi dan mengorbankan masyarakat adat. (sirana.id)















