Babulu Laut – Di pesisir Penajam Paser Utara, siapa yang tak kenal hasil lautnya. Tambak yang mengepung dan nelayan yang hidup dari isi Selat Makassar, membuat perikanan jadi andalan wilayah ini. Tidak hanya kaum lelaki yang berperan. Perempuan babulu laut juga turut berperan atas hitsnya hasil perikanan di wilayah ini.
Namun, pasokan tak selalu stabil. Terkadang, pasokan terlalu melimpah alias banjir pasokan. Kalau begini, kadang harga turun drastis. Uang yang didapat pun, kadang di bawah ekspektasi.
Seperti yang dihadapi Lina Rais. Sehari-hari, perempuan Babulu Laut ini membantu nafkah keluarganya dengan turut memasarkan kerang dara atau yang biasa masyarakat sebut, tudai. Dia berjualan via daring. Namun, ada beberapa momen pasokan kerang melimpah dan membuat harganya turun.
Pada 2023, ibu dua anak ini kepikiran mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Di Balikpapan, kota yang berjarak 2-3 jam dari rumahnya, ada peyek kepiting. Lina pun terinspirasi. Tapi bahannya bukan dari kepiting. Sebab, yang melimpah di rumahnya adalah kerang dara.
“Kami olah lagi, saya coba meniru peyek kepiting Balikpapan. Saya coba-coba terus biar enak dan diminati orang,” sambung ibu dua anak itu.
Dia pun diajak kawannya untuk ikut pelatihan pengolahan pangan. Lina tentu saja berminat ikut. Dia pun ikut berbagai pelatihan, sampai yang di Balikpapan dia ikut juga. Dia tak hanya belajar bagaimana produknya diolah. Tetapi juga, bagaimana mengemas produknya jadi lebih menarik. Peyeknya pun berkembang. Kini, beberapa toko oleh-oleh khas penajam, bahkan Balikpapan, hingga wilayah IKN, memajang hasil olahannya.

“Sampai Samarinda juga. Soalnya ada teman yang UMKM jual gula merah, dia bawa produk saya juga,” kata perempuan 35 tahun itu.
Lina juga menjual produknya secara daring. Dari sini, banyak pesanan dia dapatkan. Produksi Lina masih skala rumah tangga dan dibantu keluarganya saja. Namun, dia berharap produksinya bisa makin besar dan pelanggannya makin banyak.
“Kami mau juga kalau misalnya bisa dipesan sampai Jawa sana,” harapnya.
Babulu Laut dan Ombak yang Menggerus Daratan
Desa Babulu Laut berada di posisi paling timur di antara 12 desa se Kecamatan Babulu. Sebelum Desa Babulu Laut terbentuk, desa ini dinamakan kampung laut karena daerahnya berada di pinggir laut. Perumahan masyarakatnya pun sebagian besar dibangun di atas air. Kampung ini pernah bergabung dengan Desa Muara Telake dan juga Desa Labangka.
Kini Babulu Laut terkenal sebagai kawasan tambak andalan. Namun, laut pula yang menghantui masyarakatnya.
Seperti dikutip dalam laporan Mediaetam.com berjudul “Memagari Tanjung Tanah, Melindungi Kehidupan Babulu Laut”
Pirman, Sekretaris Desa Babulu Laut bercerita dahulu, sungai di desa Babulu Laut cukup sempit. Dedaunan pohon nipah di kiri kanan sungai, bisa saling bersentuhan. Namun, sungai ini makin lebar. Bahkan ada yang lebarnya 40 meter. Pembukaan lahan tanpa kontrol dan abrasi, disebut jadi sebab. Tambak tertua di wilayah ini, jika merujuk surat sertifikat, sekitar tahun 1982. Dari 10 ribu hektare lahan desa, tiga ribu hektare diantaranya adalah tambak.
“Sisanya sawah dan kebun sawit, yang kini sebagian juga mulai jadi kebun sawit,” sambungnya.
Pembukaan tambak ugal-ugalan pun sempat terjadi. Imbasnya ke penduduk Babulu Laut. Bahkan, dahulu di Babulu Laut tak ada Pulau Tanjung Panjang. Dahulu, Tanjung Panjang daratannya menyatu dengan wilayah Babulu Laut di pesisir. Namun pulau ini terbentuk karena tambak yang jebol dan jadi sungai. Sehingga, wilayah ini terpisah. Belum lagi tambak tidak produktif yang ditinggalkan begitu saja.
Sementara itu, pembangunan IKN yang berjarak 2,5 jam dari desa mereka, juga membuat mereka bersiap. Alih-alih membuka ruang tambak seluas-luasnya untuk produksi sebesar-besarnya, Pirman mengakui pihaknya memilih upaya hilirisasi hasil perikanan di wilayahnya. Menambah nilai jual dan menjual yang tidak begitu laku. Juga mengarahkan ke sektor wisata. Para perempuan Babulu laut pun turut berperan.
“Seperti ikan bulan-bulan atau bandeng laki. Kita jadikan amplang atau cimi-cimi (makanan ringan). Ada juga olahan lain, kita jual ke Balikpapan, Penajam, ada yang masuk ke Rest Area IKN juga,” kata dia.
Membuka tambak besar-besaran, bukan jadi pilihan utama. Maka dari itu, Pemerintah Desa Babulu Laut mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Babulu Laut Nomor 02 Tahun 2023. Perdes dalam tahap sosialisasi ini, memuat soal pembentukan Kelompok Masyarakat Peduli Mangrove, juga soal sanksi dan penghargaan terkait mangrove. Dalam Pasal 19, menyebutkan pelaku pengerusakan ekosistem mangrove akan disanksi menanam dan memelihara mangrove sepuluh kali lipat dari jumlah yang dirusak.
Juga ada denda dan pembekuan persetujuan kelola lahan. Selain itu, bagi masyarakat yang melindungi dan memanfaatkan ekosistem mangrove sesuai dengan peraturan desa itu, akan mendapat kemudahan urusan administrasi di desa. (Nofiyatul Chalimah/Sirana.id)















