Tenggarong – Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, Kabupaten Kutai Kartanegara berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 27,1 persen pada tahun 2022 menjadi 17,6 persen pada tahun 2023. Meski penurunan telah signifikan, tetapi pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terus berusaha agar stunting di wilayahnya bisa menurun.
Berbagai faktor risiko dan strategi menanggulanginya pun dipetakan. Mulai dari perencanaan kehamilan, masa kehamilan, kelahiran, hingga bayi itu lahir. Termasuk kondisi rumah dan kebiasaan orangtua juga turut jadi kajian. Termasuk kebiasaan orangtua yang merokok.
Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara yang juga Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting Kabupaten Kutai (TP2K) Kukar Sunggono pun telah menyampaikan temuan timnya. Berdasarkan catatan hasil evaluasi monitoring kasus stunting di Kutai Kartanegara (Kukar), yaitu hampir semua kasus memiliki risiko pemaparan asap rokok, dan setelah intervensi selama tiga bulan belum menunjukkan adanya perubahan.
Dia juga menjelaskan, tim Percepatan Penanganan Stunting Kabupaten Kutai TP2K telah merekomendasikan diantaranya yaitu edukasi perilaku hidup bersih dan sehat termasuk didalamnya tentang bahaya rokok. Selain itu, tetap memberikan makanan tambahan berbasis lokal, konseling, pemberian makanan tambahan bayi dan anak.
“Rujuk ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi menyeluruh dan mencari penyebab masalah gizi, melakukan pendampingan kepada orang tua untuk memberikan stimulasi perkembangan anak sesuai usia anak sekaligus memonitoring berat badan setiap minggu dan panjang badan anak sesuai bulan,” jelasnya.
Soal rokok yang memengaruhi kasus stunting ini telah diteliti. Dari penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial UI pada 2018. Temuan dari penelitian itu adalah Balita yang tinggal dengan orang tua perokok tumbuh 1,5 kg lebih kurang dari anak-anak yang tinggal dengan orang tua bukan perokok.
Dalam penelitian tersebut juga disebutkan 5,5% Balita yang tinggal dengan orang tua perokok punya risiko lebih tinggi menjadi stunting. Sementara Data Survei Sosial Ekonomi Nasioanl (Susenas) 2021 menjelaskan pengeluaran keluarga untuk konsumsi rokok tiga kali lebih banyak daripada pengeluaran untuk kebutuhan protein di keluarga. Berdasarkan data tersebut belanja rokok jadi persentase pengeluaran keluarga terbesar kedua sebanyak 11,9% baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dibandingkan untuk mereka yang mengkonsumsi makanan bergizi seperti telur, daging, dan ayam. (Advertorial/Diskominfo Kukar)















