SIRANA.ID
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
  • Home
  • Ceritarana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
    • Kalimantan Timur
    • Nasional
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Diskominfo Kukar
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Tentang Sirana
No Result
View All Result
SIRANA.ID
No Result
View All Result
Home Ranaterkini Kalimantan Timur

Ekofeminisme: Bumi dan Perempuan Berbagi Luka yang Sama dalam Talkshow Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unmul

AdminSirana2 by AdminSirana2
20 May 2025
in Kalimantan Timur, Ranamendalam
0
(Talkshow Ekofeminisme Mahasiswa Pendidikan Sejarah/Rahma Alieffiyandi)

(Talkshow Ekofeminisme Mahasiswa Pendidikan Sejarah/Rahma Alieffiyandi)

0
SHARES
88
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Samarinda – Senin, 19 Mei 2025 Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar talkshow bertajuk “Ekofeminisme: Bumi dan Perempuan: Suara yang Sama, Luka yang Sama” di Gedung Masjaya, Kampus Unmul. Acara yang digelar mahasiswa Pendidikan Sejarah ini berhasil mengupas tuntas hubungan sistematis antara penindasan gender dan kerusakan lingkungan, dengan menghadirkan dua pembicara dengan latar belakang ekofeminisme. Talkshow ini juga dihadiri peserta dari berbagai kalangan, yang turut menyimak pembahasan mengenai keterkaitan antara penindasan perempuan dan kerusakan lingkungan.

Haulpy Mutiara Dewi, Ketua Panitia, menyatakan bahwa acara ini bukan hanya untuk memenuhi tugas akademik, melainkan juga sebagai ruang refleksi bagi mereka yang suaranya sering dibungkam. “Bumi dan perempuan memiliki luka yang sama, suara yang diabaikan dan menanggung keserakahan kekuasaan,” ujarnya.

(Panitia-panitia Talkshow/doc:Panitia)
(Panitia Talkshow/Doc: Panitia)

Nella Putri Giriani, sebagai salah satu pembicara, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unmul dan sekaligus penggiat Akar Kuning, berbagi pengalamannya hidup bersama perempuan Suku Banua yang bergantung pada alam. Ia menyadari ekofeminisme setelah melihat kerusakan lingkungan di Berau yang berdampak pada kelompok rentan, terutama perempuan. “Saya tumbuh di Berau di antara perempuan-perempuan Suku Banua yang hidupnya bergantung pada alam. Saat perusahaan-perusahaan yang merusak alam masuk, merekalah yang pertama merasakan dampaknya. Harus berjalan lebih jauh untuk air bersih, hasil kebun berkurang, dan beban domestik bertambah,” jelas Nella.

Ia juga menyampaikan pengalamannya saat berkunjung Nusa Tenggara Timur, “Di Mollo, ada mamah Aleta, perempuan yang memimpin perlawanan dengan menenun di depan buldoser. Di Berau pun sama, ibu-ibu membawa parang dan senjata tradisional mempertahankan hutan adat. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa merusak alam sama dengan membunuh kehidupan itu sendiri.” Tambahnya.

Diskusi semakin hangat ketika membahas dampak konkret kerusakan lingkungan terhadap kehidupan perempuan. M Rifqi Al Bisri , moderator acara menambahkan, bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung pada kesehatan perempuan, termasuk ibu hamil yang membutuhkan nutrisi dari alam. “Jika alam dibabat habis, bagaimana nutrisi ibu hamil terpenuhi? Tak heran banyak anak terlahir stunting,” ujarnya.Refinaya J, pemateri talkshow dari penggiat Perempuan Mahardhika menambahkan, “Dalam budaya patriarki, perempuan ditempatkan di posisi paling bawah dan dianggap hanya layak berada di rumah. Perempuan dituntut untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga saat harga bahan pokok naik, merekalah yang pertama kali merasakan dampaknya dan menyuarakan protes. Contohnya dapat dilihat pada masyarakat di sekitar wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), yang awalnya dijanjikan lapangan pekerjaan. Namun pada kenyataannya, pekerjaan tersebut seringkali membutuhkan pengalaman profesional yang tidak dimiliki oleh masyarakat lokal. Selain itu, upah yang ditawarkan pun tergolong rendah. Dalam sistem patriarki, laki-laki dibebani peran sebagai pencari nafkah utama. Ketika mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi ini, tekanan tersebut dapat memicu pelampiasan dalam bentuk negatif seperti berjudi online, bahkan melampiaskan emosi kepada perempuan di sekitarnya,” jelasnya.

Media sosial turut dibahas sebagai alat perjuangan yang dapat menjadi berkah bagi gerakan lingkungan dan keadilan gender. Naya menyoroti keberanian Greta Thunberg, gadis 15 tahun asal Swedia yang rutin berdemo setiap hari Jumat untuk mendesak para politisi agar lebih peduli terhadap isu lingkungan. Ia juga menyebut aksi-aksi perempuan di berbagai daerah Indonesia, seperti ibu-ibu yang menyemen kaki mereka sebagai simbol perlawanan terhadap pendirian pabrik semen yang dianggap menyiksa ibu bumi, atau perempuan-perempuan di Loa Kulu yang menolak kehadiran tambang di wilayah mereka. Bahkan, di Sanga-sanga RT 24 yang di dominasi ibu-ibu turut turun tangan memblokade jalan agar tidak dilewati kendaraan tambang,

Kisah-kisah ini, yang tersebar luas melalui media sosial, menjadi bukti bahwa platform digital bisa menjadi alat penting untuk membuka mata publik terhadap perjuangan yang selama ini terpinggirkan.

Talkshow ini menjadi ruang penting untuk menggugah kesadaran bersama bahwa krisis ekologis dan ketimpangan gender bukanlah dua hal yang terpisah. Di tengah situasi lingkungan yang kian terancam dan suara perempuan yang kerap diabaikan, diskusi seperti ini menjadi bentuk perlawanan dan upaya membangun masa depan yang lebih adil bagi bumi dan semua penghuninya. (Rahma A)

AdminSirana2

AdminSirana2

Related Posts

Induk pesut mahakam dan anaknya (YK-RASI)
Kalimantan Timur

Alasan Mengapa Tak Ada Penangkaran Pesut Mahakam

19 January 2026
Bandara Maratua/RA
Ceritarana

Tak Lagi Perintis, Rute Berau–Maratua Kini Terbang Komersial

16 January 2026
(Ilustrasi jurnalistik/Freepik)
Kalimantan Timur

Kebebasan Pers Kian Tertekan di Tengah Menguatnya Otoritarianisme

16 January 2026
Next Post
(Video Conference Workshop Pengawasan Kearsipan Tindak Lanjut/Istimewa)

Kukar Tingkatkan Kualitas Kearsipan Digital Menyambut Pengawasan 2025

(Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Halaman Kantor Bupati Kukar/Istimewa)

Kukar Memaknai Kebangkitan Nasional dengan Semangat Kolaborasi

Dispar Kukar Siapkan Asesor Lokal untuk Percepat Sertifikasi Pelaku Pariwisata dan Ekraf

Dispar Kukar Siapkan Asesor Lokal untuk Percepat Sertifikasi Pelaku Pariwisata dan Ekraf

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Induk pesut mahakam dan anaknya (YK-RASI)

Alasan Mengapa Tak Ada Penangkaran Pesut Mahakam

9 hours ago
ilustrasi pesisir di Pulau Jawa

Degradasi Padang Lamun di Sumatera dan Jawa Lepaskan Karbon Lebih Besar Dibandingkan Wilayah Lain

2 days ago
Konferensi Pers, Indonesian Parliamentary Center (IPC) bersama Sindikasi Pemilu dan Demokrasi/Istimewa

Pilkada Tak Langsung Dinilai Merugikan Rakyat

2 days ago
Bandara Maratua/RA

Tak Lagi Perintis, Rute Berau–Maratua Kini Terbang Komersial

3 days ago

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized

Berita Populer

industri batu bara Kaltim (sirana.id)
Ceritarana

Permintaan Batu Bara Menurun, Anak Muda Kaltim Harus Bersiap

by Sirana.id
5 June 2025
0

SAMARINDA - Sejak era sebelum kemerdekaan, pertambangan dahulu jadi daya tarik Kalimantan Timur. Sisa industri pertambangan batu...

para perempuan yang memperjuangkan pemulihan ekosistem di Teluk Balikpapan, dalam sebuah aksi pad 2024 lalu. (Foto; Nofiyatul Chalimah)

Krisis Iklim dan Kerentanan Ganda Perempuan

12 June 2025
ilustrasi salah satu fakultas universitas Mulawarman/sirana.id)

Tujuh Perguruan Tinggi di Kaltim ini, Mahasiswa Barunya Tak Perlu Bayar UKT

17 June 2025
Tongkang batu bara yang melintas di perairan Kaltim (Sirana.id)

Orang Kaya di Indonesia dan 221 Ribu Rakyat Miskin Kaltim

28 September 2024
Nelayan dan kapal tongkang di Teluk Balikpapan (Foto: Nofiyatul Chalimah)

Memperjuangkan Kehidupan di Teluk Balikpapan dan Ambisi Pembangunan IKN

19 February 2025

Topik

amnesty international anak ancaman jurnalis balikpapan banjir batu bara bencana sumatera berau BMKG bps kaltim BRIN cuaca diskominfo kukar gempa ikn indonesia jurnalis kalimantan timur kaltim kekerasan kekerasan anak kekerasan perempuan kemen PPPA komnas perempuan krisis iklim KUHAP kukar Kutai Kartanegara lubang tambang maratua masyarakat adat muara badak perempuan perempuan pekerja perubahan iklim pesut pesut mahakam pilkada pulau maratua samarinda sampah sirana.id tambang wisata yayasan mitra hijau
SIRANA.ID

Sirana.id adalah media lokal di Kalimantan Timur yang hadir dengan semangat edukasi dan sumber informasi bagi publik Kalimantan Timur. Sirana berupaya memberikan ruang lebih besar bagi perempuan.

Follow sosial media kami:

Berita Terkini

  • Alasan Mengapa Tak Ada Penangkaran Pesut Mahakam
  • Degradasi Padang Lamun di Sumatera dan Jawa Lepaskan Karbon Lebih Besar Dibandingkan Wilayah Lain
  • Pilkada Tak Langsung Dinilai Merugikan Rakyat

Kategori

  • Advertorial
  • Ceritarana
  • Dinas Pariwisata Kukar
  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar
  • Diskominfo Kukar
  • Dispora Kukar
  • Kalimantan Timur
  • Nasional
  • Potretrana
  • Ranamendalam
  • Ranaterkini
  • Uncategorized
  • Tentang Sirana
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
  • Hubungi Kami

© 2025 Sirana.id . All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ranamendalam
  • Ceritarana
  • Ranaterkini
  • Potretrana
  • Advertorial
    • Dinas Pariwisata Kukar
    • Diskominfo Kukar
    • Dispora Kukar
    • Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar

© 2025 Sirana.id . All rights reserved