Samarinda – Senin, 19 Mei 2025 Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar talkshow bertajuk “Ekofeminisme: Bumi dan Perempuan: Suara yang Sama, Luka yang Sama” di Gedung Masjaya, Kampus Unmul. Acara yang digelar mahasiswa Pendidikan Sejarah ini berhasil mengupas tuntas hubungan sistematis antara penindasan gender dan kerusakan lingkungan, dengan menghadirkan dua pembicara dengan latar belakang ekofeminisme. Talkshow ini juga dihadiri peserta dari berbagai kalangan, yang turut menyimak pembahasan mengenai keterkaitan antara penindasan perempuan dan kerusakan lingkungan.
Haulpy Mutiara Dewi, Ketua Panitia, menyatakan bahwa acara ini bukan hanya untuk memenuhi tugas akademik, melainkan juga sebagai ruang refleksi bagi mereka yang suaranya sering dibungkam. “Bumi dan perempuan memiliki luka yang sama, suara yang diabaikan dan menanggung keserakahan kekuasaan,” ujarnya.

Nella Putri Giriani, sebagai salah satu pembicara, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unmul dan sekaligus penggiat Akar Kuning, berbagi pengalamannya hidup bersama perempuan Suku Banua yang bergantung pada alam. Ia menyadari ekofeminisme setelah melihat kerusakan lingkungan di Berau yang berdampak pada kelompok rentan, terutama perempuan. “Saya tumbuh di Berau di antara perempuan-perempuan Suku Banua yang hidupnya bergantung pada alam. Saat perusahaan-perusahaan yang merusak alam masuk, merekalah yang pertama merasakan dampaknya. Harus berjalan lebih jauh untuk air bersih, hasil kebun berkurang, dan beban domestik bertambah,” jelas Nella.
Ia juga menyampaikan pengalamannya saat berkunjung Nusa Tenggara Timur, “Di Mollo, ada mamah Aleta, perempuan yang memimpin perlawanan dengan menenun di depan buldoser. Di Berau pun sama, ibu-ibu membawa parang dan senjata tradisional mempertahankan hutan adat. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa merusak alam sama dengan membunuh kehidupan itu sendiri.” Tambahnya.
Diskusi semakin hangat ketika membahas dampak konkret kerusakan lingkungan terhadap kehidupan perempuan. M Rifqi Al Bisri , moderator acara menambahkan, bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung pada kesehatan perempuan, termasuk ibu hamil yang membutuhkan nutrisi dari alam. “Jika alam dibabat habis, bagaimana nutrisi ibu hamil terpenuhi? Tak heran banyak anak terlahir stunting,” ujarnya.
Refinaya J, pemateri talkshow dari penggiat Perempuan Mahardhika menambahkan, “Dalam budaya patriarki, perempuan ditempatkan di posisi paling bawah dan dianggap hanya layak berada di rumah. Perempuan dituntut untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga saat harga bahan pokok naik, merekalah yang pertama kali merasakan dampaknya dan menyuarakan protes. Contohnya dapat dilihat pada masyarakat di sekitar wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), yang awalnya dijanjikan lapangan pekerjaan. Namun pada kenyataannya, pekerjaan tersebut seringkali membutuhkan pengalaman profesional yang tidak dimiliki oleh masyarakat lokal. Selain itu, upah yang ditawarkan pun tergolong rendah. Dalam sistem patriarki, laki-laki dibebani peran sebagai pencari nafkah utama. Ketika mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi ini, tekanan tersebut dapat memicu pelampiasan dalam bentuk negatif seperti berjudi online, bahkan melampiaskan emosi kepada perempuan di sekitarnya,” jelasnya.
Media sosial turut dibahas sebagai alat perjuangan yang dapat menjadi berkah bagi gerakan lingkungan dan keadilan gender. Naya menyoroti keberanian Greta Thunberg, gadis 15 tahun asal Swedia yang rutin berdemo setiap hari Jumat untuk mendesak para politisi agar lebih peduli terhadap isu lingkungan. Ia juga menyebut aksi-aksi perempuan di berbagai daerah Indonesia, seperti ibu-ibu yang menyemen kaki mereka sebagai simbol perlawanan terhadap pendirian pabrik semen yang dianggap menyiksa ibu bumi, atau perempuan-perempuan di Loa Kulu yang menolak kehadiran tambang di wilayah mereka. Bahkan, di Sanga-sanga RT 24 yang di dominasi ibu-ibu turut turun tangan memblokade jalan agar tidak dilewati kendaraan tambang,
Kisah-kisah ini, yang tersebar luas melalui media sosial, menjadi bukti bahwa platform digital bisa menjadi alat penting untuk membuka mata publik terhadap perjuangan yang selama ini terpinggirkan.
Talkshow ini menjadi ruang penting untuk menggugah kesadaran bersama bahwa krisis ekologis dan ketimpangan gender bukanlah dua hal yang terpisah. Di tengah situasi lingkungan yang kian terancam dan suara perempuan yang kerap diabaikan, diskusi seperti ini menjadi bentuk perlawanan dan upaya membangun masa depan yang lebih adil bagi bumi dan semua penghuninya. (Rahma A)















