Tenggarong – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Jembatan Pendamping Jembatan Besi di Simpang Jalan Danau Semayang, Tenggarong. Prosesi sakral ini diawali dengan ritual tempong tawar yang dipimpin langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, H. Aji Muhammad Arifin, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan kearifan lokal.
Acara yang berlangsung pada Senin pagi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Plt. Ketua DPRD Kukar Junadi, Dandim 0906/Kkr Letkol (CZI) Damai Adi Setiawan, perwakilan Polres Kukar, serta jajaran direksi PT. Putra Nanggroe Aceh dan PT. Celebes Sarana Jasa selaku kontraktor pelaksana proyek. Turut hadir pula kepala dinas dan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Kukar, serta undangan terkemuka lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Edi Damansyah menegaskan bahwa pembangunan jembatan pendamping ini merupakan langkah strategis untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus: meningkatkan konektivitas transportasi dan melestarikan warisan sejarah.
“Jembatan Besi Tenggarong bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol sejarah yang harus kita jaga. Oleh karena itu, setelah ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), kami memilih solusi terbaik dengan membangun jembatan pendamping,” ujar Bupati Edi.
Ia meminta kontraktor segera memulai pengerjaan tanpa penundaan. “Setelah peletakan batu pertama ini, tidak boleh ada molor waktu. Pengerjaan harus dimulai dalam beberapa hari ke depan agar selesai tepat waktu,” tegasnya.
Awalnya, Jembatan Besi Tenggarong direncanakan untuk direhabilitasi. Namun, setelah melalui kajian mendalam, Pemerintah Kabupaten Kukar memutuskan untuk membangun jembatan pendamping guna menjaga keaslian struktur lama yang memiliki nilai historis tinggi.
Bupati Edi menjelaskan bahwa pendekatan ini mencerminkan filosofi pembangunan berkelanjutan. “Kami tidak ingin kemajuan infrastruktur menghilangkan jejak sejarah. Justru, kehadiran jembatan pendamping ini akan memperkaya identitas Tenggarong sebagai kota yang maju sekaligus berbudaya,” paparnya.
Keberadaan jembatan pendamping diharapkan tidak hanya mempermudah arus lalu lintas, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan budaya dan sejarah di Tenggarong. “Kami ingin kawasan ini menjadi destinasi yang memadukan keindahan arsitektur modern dengan nuansa masa lalu,” ungkap Bupati.
Proyek ini juga menjadi bukti komitmen Pemkab Kukar dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian warisan budaya. Dengan demikian, generasi mendatang tetap dapat mengenal dan menghargai sejarah sambil menikmati fasilitas infrastruktur yang mutakhir.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menyatakan kesiapan teknis untuk memastikan proyek berjalan lancar. Sementara itu, perwakilan kontraktor PT. Putra Nanggroe Aceh menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal tanpa mengabaikan standar kualitas.
Dengan dimulainya pembangunan jembatan pendamping ini, masyarakat Kukar dapat optimis bahwa wilayah mereka akan semakin terhubung dengan baik, tanpa harus kehilangan identitas budaya yang telah mengakar selama berabad-abad. (Advertorial/Diskominfo Kukar)















