JAKARTA – Amnesty International Indonesia menilai kematian seorang murid Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai gambaran nyata kemiskinan struktural sekaligus ironi dalam pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang menyayat hati sekaligus tamparan keras bagi negara yang dinilai gagal melindungi hak asasi warganya.
Menurut Usman, kasus ini memperlihatkan kontras dengan kebijakan anggaran negara. Ia menyoroti situasi ketika seorang anak diduga mengakhiri hidupnya karena keluarga tak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10.000, sementara negara merencanakan anggaran besar untuk sejumlah program, seperti keanggotaan Board of Peace, program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Merah Putih.
Amnesty mendesak pemerintah mengevaluasi kebijakan serta memastikan program penanggulangan kemiskinan berjalan nyata. Kemiskinan, kata Usman, membuat anak-anak rentan terhadap pelanggaran HAM, termasuk dalam akses pendidikan. Ia menegaskan, hak atas pendidikan bukan hanya soal biaya sekolah, tetapi juga ketersediaan perlengkapan belajar. Kegagalan memenuhi hal tersebut dapat berdampak pada kondisi psikologis anak, terutama dalam situasi kemiskinan ekstrem.
Ia menambahkan, kemiskinan kerap membuat seseorang merasa tersisih, tidak berdaya, dan suaranya tak didengar, sehingga memengaruhi partisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya, termasuk pemenuhan hak pendidikan.
Amnesty menyerukan evaluasi menyeluruh program pengentasan kemiskinan dan pendidikan gratis agar kasus serupa tidak terulang. Negara diminta melibatkan masyarakat terdampak serta mendengarkan aspirasi mereka. Pendidikan layak, tegasnya, dijamin Konstitusi dan Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR), sehingga negara wajib memastikan setiap anak memiliki akses sarana pendidikan tanpa hambatan biaya.
Latar Belakang
Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, NTT, dilaporkan meninggal dunia pada 29 Januari 2026. Berdasarkan laporan media dan hasil pemeriksaan kepolisian, korban diduga putus asa setelah permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga.
Polres Ngada mengungkap YBS diduga meninggalkan surat berbahasa Ngada kepada ibunya, MGT, yang berisi pesan perpisahan. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi dan masih mendalami kasus tersebut.
Kepala Desa Naruwolo menyebut, malam sebelum kejadian korban meminta uang untuk membeli alat tulis, namun sang ibu tidak mampu memenuhinya. Keluarga korban tergolong miskin. MGT adalah janda dengan lima anak yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. YBS tinggal bersama neneknya di sebuah pondok untuk membantu meringankan beban keluarga.















