Kasus malaria di Indonesia masih menjadi persoalan serius karena tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan, geografis, serta hubungan antara manusia, hewan, dan ekosistem. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus malaria pada 2025 mencapai 706.297 kasus atau meningkat sekitar 30 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 543.965 kasus. Kondisi ini dinilai memerlukan dukungan berbagai pihak guna mencapai target eliminasi malaria pada 2030.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, mengatakan pengendalian malaria di Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles sebagai vektor penular penyakit.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Jadi, bukan semua nyamuk bisa menularkan malaria—hanya nyamuk Anopheles betina yang membawa parasit tersebut.
Nyamuk ini biasanya berkembang biak di tempat yang ada genangan air bersih atau tenang, seperti:
- rawa-rawa
- kubangan air hujan
- parit atau selokan yang tidak mengalir
- daerah hutan dan pesisir tertentu
“Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan,” ujarnya, Kamis (21/5).
Menurut Wisnu, wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, memiliki kondisi geografis yang mendukung penyebaran malaria, seperti curah hujan tinggi, topografi pegunungan, dan banyaknya genangan air jernih yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Situasi tersebut menyebabkan sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di wilayah itu.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Kalimantan, Sumatera, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo yang masih memiliki kasus malaria endemis.
“Jika kondisi geografis mendukung, otomatis dengan mudah vektor malaria dapat berkembangbiak,” katanya.
Wisnu juga menjelaskan bahwa malaria di Indonesia tidak seluruhnya berasal dari penularan antarmanusia. Dari sisi kesehatan hewan, terdapat ancaman malaria zoonotik yang berasal dari satwa liar, terutama primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan.
Salah satu jenis malaria yang perlu diwaspadai adalah Plasmodium knowlesi, parasit yang secara alami hidup pada primata dan dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.
“Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian,” katanya.
Dalam aspek pengobatan, Wisnu menyebut pemerintah selama ini telah menyediakan obat antimalaria gratis bagi masyarakat di wilayah endemis. Namun, efektivitas pengobatan kini menghadapi tantangan karena sejumlah obat lama, seperti Kina, mulai tidak efektif akibat resistensi parasit. Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan harus menggunakan obat generasi baru yang lebih mahal dan memerlukan distribusi lebih kompleks.
Selain itu, distribusi obat maupun tenaga kesehatan di wilayah endemis juga masih terkendala akses yang sulit serta faktor keamanan. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil sering mengalami keterlambatan diagnosis dan penanganan, padahal malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat jika tidak segera diobati.
Karena itu, Wisnu menekankan pentingnya edukasi masyarakat dalam pencegahan malaria, terutama terkait pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.
“Edukasi terhadap masyarakat berperan sangat penting dalam pencegahan malaria, khususnya untuk pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan,” jelasnya.
Ia menilai target eliminasi malaria pada 2030 masih dapat dicapai apabila pendekatan One Health diterapkan secara konsisten. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan dalam upaya deteksi, pengobatan, pengendalian vektor, serta pelestarian lingkungan.
“Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja,” tutup Wisnu. (Sirana/RA)













