SAMARINDA – Pada 12 Mei 2025, Samarinda hampir lumpuh. Ruas-ruas jalan dipenuhi air. Media sosial dipenuhi video banjir, jalan amblas, pohon tumbang, dan longsor yang menimpa rumah di Jalan Belimau, Samarinda.
Banjir dan longsor, lagi-lagi buat masyarakat Samarinda harus menelan nelangsa di hari libur. Koordinator Pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi, menyatakan bahwa seluruh unsur SAR telah bekerja maksimal selama dua hari operasi (12-13 Mei 2025). Hari ini, dua korban terakhir atas nama Safitri (14) dan Nurul Syakira (17) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kedalaman sekitar 4 meter.
“Dengan ditemukannya seluruh korban, maka operasi SAR kami nyatakan selesai. Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat, baik dari instansi pemerintah, relawan maupun masyarakat sekitar yang turut membantu proses pencarian,” ujar Mardi Sianturi.
Dari total enam korban, dua orang dinyatakan selamat, sementara empat lainnya ditemukan meninggal dunia. Selain banjir, longsor juga menghantui. Di akun instagram BPBD Samarinda, unggahan soal pengecekan longsor mendominasi. Peringatan cuaca juga disampaikan. Curah hujan di kota ini disebut tinggi pada 12 Mei 2025 dan menyebabkan banjir dimana-mana dan longsor di berbagai titik.
BMKG Kota Samarinda hari Senin 12 Mei 2025 terdapat 5 daerah yang masuk dalam daftar 10 besar curah hujan maksimum harian di kaltim, tercatat Lempake dengan curah hujan tertinggi 153 mm/hari, wilayah samarinda utara keseluruhan 122 mm/hari, samarinda ulu 71 mm/hari, sungai kunjang 66,3 mm/hari, sungai pinang 66,1 mm/hari.
Terpantau Hujan dengan curah tertinggi terjadi dari pukul 06.00 hingga 10.00 kurang lebih selama 4 jam secara merata di Samarinda dengan curah hujan sangat lebat 153 mm/hari sampai hujan lebat 61,6 mm/hari mengguyur Merata Kota dengan luas wilayah 716 km².
Berkaca tahun-tahun sebelumnya, banjir dan longsor terus menghantui warga Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim dalam publikasinya di Instagram. Dalam laporannya, pada 2024 ini ada 221 kejadian banjir di Kalimantan Timur. Naik, dibandingkan 2023 yang hanya 134 kejadian. Berbagai catatan menunjukkan banjir kerap menyambangi Kaltim.
Sementara itu, dari berbagai kota/kabupaten di Kalimantan Timur, Samarinda menjadi wilayah yang paling sering disambangi bencana. Meskipun, pada 2023, kejadian bencana paling banyak di Paser dengan grafik bencana perbulan sebanyak 217 kejadian. Lalu di Samarinda tertinggi kedua dengan 202 kejadian. Sedangkan pada 2024, grafik bencana perbulan paling tinggi ada di Samarinda dengan 246 kejadian. Lalu, Paser jadi yang terendah se-Kaltim hanya dengan 33 kejadian. (Sirana.id)















