UN Women bersama Women’s Research Institute (WRI) dan mitra konsorsium menggelar Forum Nasional bertajuk “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim”. Kegiatan ini mempertemukan para perempuan penggerak aksi iklim di tingkat komunitas dengan perwakilan pemerintah, mitra pembangunan, serta organisasi masyarakat sipil. Tujuannya adalah memperkuat kolaborasi dan komitmen bersama dalam mendorong aksi iklim berkelanjutan.
Forum tersebut menekankan peran penting perempuan dalam membangun ketangguhan komunitas. Selain itu, acara ini menjadi ruang dialog multipihak untuk berbagi inspirasi, memperkuat jaringan, serta memastikan suara perempuan semakin terdengar dalam isu aksi iklim, transisi energi berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA, Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, saat membuka forum menegaskan komitmen pemerintah terhadap aksi iklim inklusif. Ia menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan dalam proses pengambilan keputusan, baik pada perumusan maupun pelaksanaan kebijakan. Pemerintah juga telah menghadirkan kebijakan pendukung, salah satunya Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI).
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi risiko tinggi akibat perubahan iklim. BNPB mencatat 3.233 bencana terjadi sepanjang 2025, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. Dampaknya tidak dirasakan sama oleh semua pihak. Data UN Women dan UN DESA menunjukkan bahwa dalam skenario terburuk, krisis iklim dapat mendorong 158,3 juta perempuan dan anak perempuan di dunia ke jurang kemiskinan ekstrem.
Forum ini juga menghadirkan perwakilan komunitas dari NTB, NTT, dan Aceh yang telah menerapkan solusi iklim berbasis pengetahuan lokal dan pengelolaan sumber daya alam. Salah satunya disampaikan Imakulata F. Jedia dari NTT, yang menceritakan upaya kelompoknya menanam pangan lokal dan pohon untuk menjaga ketersediaan air.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek regional EmPower: Women for Climate-Resilient Societies Phase 2 yang dijalankan UN Women bersama UNEP dengan dukungan sejumlah negara. Di Indonesia, program difokuskan pada penguatan aksi iklim responsif gender, peningkatan peran perempuan dalam keputusan lingkungan, serta pengembangan mata pencaharian tangguh iklim.
UN Women dan WRI menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar kelompok terdampak, tetapi aktor kunci perubahan. Forum ditutup dengan penyusunan agenda tindak lanjut dan deklarasi kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam menghadapi krisis iklim di Indonesia. (RA/Sirana.id)















