Indonesia memiliki hutan gambut terluas ketiga di dunia sekaligus terbesar di Asia, dengan luasan sekitar 13,4 juta hektare. Ekosistem ini menyimpan fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial yang sangat penting di tingkat lokal hingga global. Namun, tren riset gambut kini berkembang dinamis seiring meningkatnya degradasi lahan gambut.
Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, menyampaikan bahwa kontribusi Indonesia dalam lanskap ilmu pengetahuan global banyak didorong oleh riset lintas disiplin seperti ilmu lingkungan, kebumian, dan biologi. Hal itu ia sampaikan dalam Workshop Solusi Iklim Alami (NCS) Lahan Gambut 2025 di Bogor. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan lokal, pakar internasional, serta pembuat kebijakan, disertai investasi berkelanjutan dalam infrastruktur riset untuk menjawab kesenjangan pengetahuan dan menghasilkan temuan baru.
Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN, Nisa Novita, mengungkapkan hasil kajian bersama BRIN dan Kementerian Kehutanan menunjukkan sekitar 75% potensi mitigasi solusi iklim alami berasal dari konservasi dan restorasi gambut. Ia mengingatkan bahwa setengah gambut Indonesia telah rusak atau terbakar, sehingga tindakan segera sangat diperlukan. YKAN dan BRIN sendiri telah bekerja sama lebih dari empat tahun dalam riset dan restorasi gambut, terutama di Kalimantan Barat.
Peneliti BRIN, Wahyu Catur Adinugroho, menambahkan bahwa gambut tropis menyimpan cadangan karbon sangat besar dan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Estimasi karbon yang akurat dibutuhkan dalam sistem MRV Gas Rumah Kaca untuk mendukung target FOLU Net Sink 2030. Meski demikian, perhitungan masih menghadapi tantangan akibat variasi tutupan lahan, kedalaman gambut, keterbatasan data, dan gangguan seperti kebakaran. Studi kolaborasi menunjukkan tanah gambut menyumbang sekitar 86% cadangan karbon ekosistem, dengan situs gambut dalam memiliki cadangan sangat tinggi. Ia menekankan perlunya teknologi pemantauan dan kolaborasi agar hasil riset dapat diterapkan dalam kebijakan pengelolaan lahan. (Sirana.id)















