TAK punya daratan, tak jadi alasan bagi Desa Muara Enggelam tidak mencoba tanaman obat keluarga (Toga). Meski tak punya daratan, nyatanya desa ini bisa menyabet prestasi tingkat provinsi untuk urusan Toga dan akupresur.
Ya, Kader Asman Toga Desa Muara Enggelam Kecamatan Muara Wis raih peringkat 3 Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan Akupresur Tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kategori Kabupaten.
Yuyun sebagai Kader Asman Toga Desa Muara Enggelam yang mewakili Kukar mengatakan bersyukur. Sebab, semua kerja keras yang sudah dilakukan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Namun, diakuinya dia tidak langsung berpuas hati dengan hasil hari ini atau penghargaan yang sudah di capai. Hal ini justru jadi pelecut semangat agar pihaknya dapat lebih mengembangkan dan memanfaatkan Toga dan Akupresur.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Puskesmas Muara Wis yang sudah bersinergi dan berkolaborasi dalam bekerja keras dalam mendorong kelompok kami untuk mandiri pemanfaatan TOGA dan akupresur,” ucapnya.
Dia pun juga berterima kasih karena Puskesmas sudah memberikan pemahaman dalam memelihara dan meningkatkan status kesehatan. Serta mencegah dan mengatasi masalah/gangguan kesehatan ringan secara mandiri oleh individu, keluarga, kelompok, masyarakat dengan memanfaatkan TOGA dan akupresur.
Pengembangan Toga pun seharusnya menjadi hal baik. Sebab, bisa menjadi alternatif alami untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai penyakit ringan. Dengan menanam berbagai tanaman seperti jahe, kunyit, temulawak, lidah buaya, hingga daun sirih, masyarakat tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga tetapi juga menghemat pengeluaran untuk obat-obatan.
Salah satu contoh Toga adalah Jahe yang dapat meredakan batuk. Juga misal kunyit yang jadi antiinflamasi alami. Selain manfaat kesehatan, TOGA juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Banyak masyarakat yang menjual hasil olahan herbal, seperti minuman jamu dan salep alami, yang dibuat dari tanaman obat yang mereka tanam sendiri. Apalagi, keunggulan TOGA adalah mudah ditanam di lahan kecil, bahkan di pot atau polybag. Ini cocok bagi masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. (Advertorial/Diskominfo Kukar)















