Udang menjadi komoditas ekspor perikanan andalan Kalimantan Timur. Udang-udang ini, biasanya diproduksi dalam budidaya tambak. Meski nilai ekonominya menggiurkan dan jadi penopang ekonomi sebagian wilayah pesisir Kalimantan Timur. Namun, pengelolaan serampangan membuat udang bisa jadi penyebab degradasi mangrove di Kalimantan Timur.
Sebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur (Kaltim) menyebutkan udang menjadi komoditas unggulan yang mendominasi pasar ekspor perikanan daerah.
“Orientasi sektor perikanan saat ini diarahkan pada pangsa ekspor, dengan udang windu sebagai penyumbang terbesar karena kualitas dan nilai jualnya berbasis standar dolar Amerika Serikat,” ungkap Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, di Samarinda, Senin (25/8/2025).

Hingga Juli 2025, nilai ekspor udang windu Kaltim tercatat mencapai Rp164,4 miliar dari total sementara ekspor perikanan sebesar Rp256 miliar. Sementara pada tahun sebelumnya, total ekspor produk perikanan Kaltim menembus Rp423 miliar dengan volume 2.785 ton, dimana udang windu berkontribusi sebesar Rp267,1 miliar atau lebih dari 63 persen.
Meski jadi alternatif yang menjanjikan, namun pengelolaan tambak udang termasuk tambak perikanan lain, yang tidak ramah lingkungan, hanya akan menggerus pohon-pohon mangrove. Salah satu contoh masifnya degradasi mangrove di Kalimantan Timur ada di kawasan Delta Mahakam. Pembukaan lahan masif terjadi di wilayah mangrove yang jadi muara Sungai Mahakam ini.
Hingga 2020, data Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Delta Mahakam, menyebut 54 persen atau 61,5 ribu hektare kawasan tersebut adalah tambak. Sedangkan hutan mangrove primer hanya 0,34 persen atau sekitar 388,5 hektare. Untuk hutan bakau (mangrove) sekunder 22,39 hektare atau seluas 25,4 ribu hektare.

Namun, masyarakat sudah bergantung pada ekonomi ini. Salah satu metode yang populer dan saat ini dianggap solusi adalah silvofishery. Jadi, menanam mangrove di antara tambak-tambak. Serta menerapkan tambak ramah lingkungan. Seperti penggunaan pupuk organik maupun pestisida organik.
Achmad Nuryawan dari Yayasan Mangrove Lestarim, adalah salah satu aktor yang mengenalkan metode ini ke masyarakat Delta Mahakam. Namun, diakui tidak mudah. Perlu pendekatan ke pemilik tambak untuk mengubah pola pikir ke tambak ramah lingkungan. Tak sekadar ajak dan membayar kompensasi untuk menanam mangrove di tengah tambak.
Sebab, banyak pola pikir praktis yang dipakai masyarakat. Sementara, akuakultur atau budidaya perairan, butuh proses untuk mengembalikan daya dukung lahan.
“Sekarang petambak di Muara Badak sama Muara Pantuan (Anggana) mulai welcome,” jelasnya.
Terpisah, mangrove yang berkurang karena tambak, telah diamini Wagub Kaltim Seno Aji.
“Pemicu pembukaan lahan mangrove terbesar adalah untuk kegiatan pembukaan tambak. Disisi lain, ditemukan tambak-tambak yang kemudian terabalkan dan telah berubah menjadi semak mangrove. Sehinga diperlukan penguatan pelibatan masyarakat dalam upaya rehabilitasi ekosistem mangrove,” ungkap Seno Aji.
Untuk itu, lanjut Seno Aji, Pemprov Kaltim membentuk Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Kaltim, sebagai upaya untuk mengantisipasi kerusakan ekosistem mangrove, dan sebagai wadah koordinasi serta sinergi multi pihak terkait pengelolaan ekosistem mangrove di Kaltim.
Tugas dari KKMD, ujar Seno Aji, yaitu melakukan identifikasi dan inventarisasi kondisi ekosistem mangrove, menyinergikan pelaksanaan dan monev program pengelolaan ekosistem mangrove antar sektor pusat, provínsi dan kab/kota, memfasilitasi penyelesaian permasalahan pengelolaan dan pengembangan potensi mangrove, mendorong terwujudnya data dasar mangrove di Kaltim, mendorong dan memfasilitasi pembentukan KKMD kab/kota, serta melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan KKMD kepada Gubernur selaku Ketua Umum Pengelolaan Ekosistem Mangrove Provinsi, dan kepada Pokja Mangrove Nasional.
“Pengelolaan mangrove di Kaltim bukan hanya tentang restorasi/ rehabilitasi, namun juga tentang perlindungan dan konservasi terhadap mangrove eksisting, serta meningkatkan ketahanan terhadap bencana iklim. Kita juga perlu meningkatkan peran perempuan melalui pemberdayaan dan penguatan kap

asitas dalam kegiatan ekonomi dan pengambilan keputusan kelompok, perencanaan desa dan lainnya,” pungkas Seno Aji. (sirana.id)
Baca juga: Udang Windu Kaltim, Tulang Punggung Ekspor Perikanan















