Pariwisata yang berkembang sejak satu dekade lalu, telah mengubah banyak hal di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dahulu sumber uang hanya dari tangkapan ikan dari laut yang diolah menjadi ikan asin, kini sumber ekonomi bergerak juga dari sektor pariwisata.
Nofiyatul Chalimah – Pulau Maratua
Maratua, kini jadi surga wisata Bahari. Belasan ribu wisatawan datang ke pulau ini tiap tahun. Misalnya pada 2023 ada 15.883 turis datang. 1.251 di antaranya adalah turis asing (Maratua dalam Angka, 2024). Mereka datang ke 34 titik destinasi di Pulau Maratua.
Maka dari itu, kini warganya yang awalnya hanya punya profesi nelayan, kini berkembang menjadi pelaku industri pariwisata. Ada yang menjadi pemandu wisata, menyewakan speedboat, mengubah rumah menjadi homestay, hingga pemasok kebutuhan para wisatawan.
Dibandingkan Pulau Derawan yang juga di Berau, Maratua punya ceruk pasar sendiri. Wisata Pulau Maratua, menawarkan wisata premium dengan resort mahalnya. Walaupun, ada juga homestay-homestay milik warga yang lebih terjangkau. Pengunjung pun banyak datang dari luar negeri khusus untuk menyelam dan terus meningkat. Misal pada 2022 hanya ada 171 turis mancanegara ke pulau ini, maka 2023 ada 1.251 orang yang datang.
Masyarakat Maratua harus dipersiapkan. Mengajar anak-anak Maratua berbahasa Inggris, menjadi salah satu cara Enter, seorang relawan dari Balikpapan, untuk membantu anak-anak Maratua.
Enter, seorang guru Bahasa Inggris, datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur, tiga tahun lalu ke Maratua.Tujuannya mengajar di Yayasan Kalasahan Maratua. Sebuah sekolah gratis di tepi pantai dekat dermaga umum di Kampung Teluk Harapan, Maratua. Kini, sekitar 50an anak-anak belajar di sekolah ini. Tiap sore dan malam, pada Senin, Rabu, dan Jumat. Selain mengajar di Kalasahan, Enter juga mengajar Bahasa Inggris gratis di SMP 1 Maratua tiap Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Dibanding ketika baru datang tiga tahun lalu, dia merasakan perbedaan pada anak-anak Maratua.
“Dibanding ketika saya baru datang, jumlah vocab (kata) mereka bertambah banyak. Jauh meningkat kemampuan bahasa Inggris mereka,” kata Enter.

Lelaki berkacamata ini juga melihat, anak-anak Maratua lebih percaya diri dan berani menggunakan Bahasa Inggris. Mereka tak sungkan menyapa turis luar negeri dan berkomunikasi. Meskipun, masih dengan kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang terbatas.
“Soalnya, kadang kalau ada turis asing ke Maratua, ada juga yang mengajar ke kelas Kalasahan,” sambungnya.
Yayasan Kalasahan Maratua ini, didirikan Marwa Serlyanti Al Idrus. Perempuan asal Balikpapan yang mendirikan sekolah gratis Bahasa Inggris di Maratua sejak 2021. Namun mengoperasikan sekolah gratis juga punya tantangan. Enter mengakui, salah satu yang perlu perhatian adalah tempat mengajar dan fasilitas. Selain itu, karena kebanyakan anak adalah pembelajar melalui visual, mereka masih membutuhkan banyak flash card atau kartu pembelajaran bergambar.
Metode pengajaran Bahasa Inggris memang dibuat Enter seasyik mungkin. Sehingga, ketika mereka datang ke Kalasahan, yang mereka bayangkan adalah keseruan bermain. Bukan sekadar belajar yang membosankan. Kalasahan akan dimulai dengan nyanyian anak-anak yang diiringi petikan gitar Enter. Kadang lagu bahasa inggris, kadang lagu bahasa suku Bajau, suku mayoritas warga Maratua.
Dengan belajar Bahasa Inggris, Enter berharap, anak-anak pulau ini tidak akan tertinggal. Apalagi, dari data BPS Berau, dari 3.927 total warga Maratua, 1.232 orang adalah anak-anak di bawah 14 tahun. Sepuluh tahun mendatang, mereka yang akan hidup dan mengambil keputusan untuk Maratua. Mereka mestinya bisa menikmati Maratua dan berkontribusi. Tidak sekadar jadi penonton dari investor-investor luar yang datang ke pulau ini.
Risau Usai Bom Ikan Tak Lagi Terdengar
Dari empat kampung di Pulau Maratua, yaitu Teluk Alulu, Teluk Harapan, Payung Payung, dan Bohe Silian, kampung yang paling banyak memiliki resort adalah Payung Payung. Pariwisata pun telah mengubah kampung yang menjadi lokasi Bandara Maratua itu.
Payung Payung bergegas berbenah. Sektor wisata, mereka kejar. Resort-resort telah berdiri di kampung ini dan akan bertambah banyak lagi. Kampung ini juga jadi gerbang udara bagi pengunjung yang datang via pesawat. Selain itu, juga gerbang pengunjung dari Tarakan, Kalimantan Utara. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Payung yang merupakan Pokdarwis dari Kampung Payung Payung pun pernah menyabet juara 1 Lomba Pokdarwis 2023 se-Kalimantan Timur.

Namun, kata Kepala Kampung Payung Payung, Rico, dahulu sekitar 20 tahun lalu, Payung Payung adalah kampung dengan pelaku bom ikan paling banyak di Pulau Maratua. Tiap hari bunyi bom terdengar di pantai depan halaman kampung. Ikan-ikan yang terkena bom ikan pun, siap diangkut ke pulau dan dijadikan ikan asin.
“Tetapi, sejak adanya pariwisata nelayan mulai berkurang mengebom ikan,” kata dia.
Selain mereka menyadari keindahan terumbu karang yang jadi daya tarik, mereka juga khawatir melukai para penyelam. Pokdarwis juga bergerak, mempromosikan keindahan pulau, dan membuat banyak yang mulai melirik sektor wisata sebagai sumber nafkah. Meskipun, nelayan masih jadi profesi utama.
“Kalau nelayan kan juga penting buat memasok ikan-ikan segar. Ikan-ikan kita banyak dicari,” sambungnya.
Karena berbagai kerusakan akibat bom ikan di masa silam, nelayan yang terhimpun dan dibantu lembaga dari luar juga kerap melakukan transplantasi terumbu karang. Harapannya, ini akan jadi investasi di masa depan.
Walau terdengar menyenangkan dan jadi solusi, bayang-bayang kekhawatiran juga ada. Misal kekhawatiran soal pariwisata nantinya berkembang pesat tanpa mitigasi yang cukup di sektor air. Juga, persiapan sumber daya manusia dan fasilitas-fasilitas di pulau ini. Rico memaparkan sebelumnya, sumber air bersih di kampung ini, hanya dari air hujan dan sumur-sumur. Namun, saat kemarau sumur-sumur di kampung, terasa payau. Solusinya, mereka kerap beli air dari Kampung Teluk Harapan yang sumurnya tak payau. Harganya tak murah. Satu tandon, sekitar Rp120 ribu.
Melihat pariwisata bergeliat, pemerintah terus mempromosikan wisata ke investor asing. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud pada 7 April 2025 memaparkan, investor asal Inggris tertarik menanamkan modalnya di Pulau Maratua.
“Ini peluang besar untuk jadi destinasi internasional,” kata dia di hadapan para awak media.
Karena itu, menurutnya perlu promosi yang progresif dan konstruktif. Sekretaris Provinsi Kaltim Sri Wahyuni pun menjelaskan, ketertarikan inggris ini bermula saat Dubes Inggris datang ke Kaltim.
“Saat Dubes Inggris datang tahun lalu, mereka tertarik setelah kami paparkan kebutuhan pengembangan pariwisata di Maratua. Akhirnya mereka menyalurkan bantuan lewat YKAN (yayasan konservasi alam nasional),” jelasnya.
Sistem pengelolaan berbasis Badan Layanan Umum Daerah ini akan meniru pola konservasi di Papua. Bakal ada satu operator utama untuk memastikan pengelolaan lebih terarah. Sehingga, dapat menjaga kenyamanan wisatawan, serta melindungi ekosistem alam.
Tetapi sayangnya, harus ekstra diawasi. Jangan karena ingin investasi masuk, Maratua terabaikan. Supaya, peristiwa pada 19 September 2024 tak terulang lagi. Saat itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penyegelan dua resort di Pulau Maratua karena ada indikasi perusahaan memanfaatkan pulau-pulau kecil tanpa memiliki dokumen perizinan.
Dalam pers releasenya, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Pung Nugroho Saksono, menjelaskan, dua resort itu diduga tidak memiliki tiga dokumen perizinan, yaitu persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL), izin kegiatan wisata tirta lainnya tanpa perizinan berusaha, dan perizinan Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil.
Bahkan salah satu resort di Pulau Bakungan menyambungkan satu pulau dengan pulau lainya menggunakan jembatan yang dikelola oleh PMA asal Jerman dan dikelola oleh WNA asal Swiss. Sedangkan PT MID yang ada di Pulau Maratua dikelola oleh PMA asal Malaysia.
“Setelah kita lakukan pengecekan kondisi saat pengawasan kegiatan pemanfaatan ruang laut kedua resort tersebut, terindikasi adanya dugaan pelanggaran pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang diduga tidak memiliki izin. Kami imbau pengelola untuk segera menyelesaikan administrasi. Apabila belum terselesaikan maka tetap akan kami segel,” ujar dia.
Resor-resor mahal ini, harus memerhatikan tata guna lahan. Apalagi, salah satu isu Maratua adalah air. Kepada Mediaetam.com, Akademisi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Shaloho Dina Devy pernah menjelaskan, keberadaan air tanah itu bergantung pada akuifer. Juga bergantung cuaca.
Akuifer itu seperti kantong yang menyimpan air di dalam tanah. Jika akuifer tipis, air yang ditampung terbatas. Inilah alasan mengapa, air tanah di satu titik bisa lebih berlimpah sedang sisi lain tidak. Namun, keberadaan air tanah ini juga bergantung pada air hujan. Jika tak ada hujan, maka makin lama makin kering.
Dia menjelaskan, kenaikan suhu akan berdampak pada air tanah. Siklus hidrologi ada air hujan, infiltrasi, dan penguapan. Infiltrasi air tanah dari air hujan itu bisa berkurang, ketika curah hujan rendah.
“Lalu evaporasi dan run off. Untuk menghitung evaporasi dan run off ini ada komponen suhu. Makin tinggi suhu, penguapan makin tinggi. Kalau penguapan makin tinggi, timbunan akan berkurang. Jadi siklusnya sangat terkait,” paparnya.
Dia menjabarkan, jika suhu makin naik, penguapan makin tinggi. Sementara, perhitungannya, curah hujan dikurangi penguapan, jadinya infiltrasi air tanah berkurang. Maka, jika suhu naik, maka makin susah dapat air.
Shaloho juga menegaskan mitigasi hidrologi yang berkaitan erat untuk kasus air tanah kuncinya adalah tata guna lahan. Makin banyak vegetasi, ada daya serap dari akar, akan membantu infiltrasi air tanah. Kalau banyak vegetasi, koefisien rendah, 80 persen air akan tersimpan jadi air tanah. (sirana.id)
Tulisan ini telah terbit di Mediaetam.com dengan judul: Pariwisata yang Menghentikan Ledakan di Maratua dan Risau Setelahnya















