Dua puluh satu tahun setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki, kisah perempuan dalam memperjuangkan dan merawat perdamaian Aceh kembali diangkat melalui film dokumenter Inong Peudame: Together, We Were Brave. Film dokumenter Inong Peudame dibuat oleh UN Women Indonesia bersama dengan AMAN Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dengan tujuan menyorot pengalaman dan kontribusi perempuan dalam proses perdamaian di Aceh.
Film berdurasi 26 menit ini menampilkan 12 tokoh, termasuk aktivis perempuan, penyintas, tokoh masyarakat, dan kelompok perempuan akar rumput di Aceh, yang menceritakan pengalaman dan refleksi mereka terhadap proses perdamaian di Aceh. Kisah mereka memperlihatkan jejak keberanian dan kekuatan kolektif perempuan, serta peran penting mereka dalam memperkuat ketangguhan masyarakat di masa konflik dan pasca konflik.
“Film dokumenter memperlihatkan bagaimana proses mencapai perdamaian di Aceh banyak dipimpin oleh perempuan. Tokoh perempuan terus menyuarakan perdamaian, membuka dialog di berbagai ruang dan menuntut ruang aman agar perempuan bisa beraktivitas dengan damai dan tanpa takut. Perdamaian ini yang harus terus diwariskan ke generasi mendatang dan dirawat oleh semua pihak,” ucap Umi Hanisah, pendiri dan pemimpin Pesantren Diniyah Dayah Darussalam, yang juga merupakan salah satu kontributor film dokumenter Inong Peudame.
“Hari ini, kita tidak hanya meluncurkan sebuah film dokumenter. Kita juga menghormati para perempuan yang kisahnya hidup di dalamnya, serta banyak perempuan lain yang mungkin tidak pernah muncul di layar, tetapi kontribusinya telah membentuk perjalanan perdamaian yang kita nikmati bersama hari ini. Kami berharap film ini juga bermanfaat untuk membuka lebih banyak diskusi pembelajaran dan membuka banyak kesempatan baru untuk kerja-kerja pemberdayaan dan kesetaraan bagi semua,” ucap Yulies Puspitaningtyas, Programme Manager for Governance, Peace and Resilience.
“Pemutaran Inong Peudame penting untuk menghadirkan kembali suara dan pengalaman perempuan Aceh yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan perdamaian, tetapi belum selalu hadir dalam narasi sejarah arus utama. Kami berharap jejak genuin mereka menjadi pembelajaran bagi Aceh dan Indonesia bahwa perempuan bukan hanya korban, tetapi juga aktor perdamaian dan keamanan yang sejak dari komunitas ikut merawat perdamaian dan mendorong perubahan,” ungkap Ghufron, Manajer IDEA AMAN Indonesia.
Peluncuran film Inong Peudame dilaksanakan hari ini di Aceh Besar dan diikuti dengan dialog kebijakan “Kepemimpinan Perempuan untuk Perdamaian, Aksi Kemanusiaan, dan Aceh yang Tangguh”. Dialog kebijakan yang dimoderatori oleh Dr. Rasyidah, S.Ag., M.Ag, Ketua Presidium Balai Syura membahas pembelajaran dari pengalaman perempuan Aceh dan keterkaitannya dengan implementasi serta pelokalan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (RAN P3AKS) 2026–2029 yang saat ini dalam proses finalisasi, agenda Perempuan, Perdamaian dan Keamanan (Women, Peace and Security/WPS), dan penguatan ketangguhan masyarakat melalui program unggulan nasional KITA TANGGUH yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
“Dalam kerangka program unggulan KITA TANGGUH, Kemenko PMK terus mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dan ketangguhan masyarakat yang inklusif. Pembelajaran dari perempuan Aceh dapat memberikan kontribusi penting bagi upaya tersebut, khususnya dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat, sistem perlindungan, penggunaan data terpilah berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas, serta mekanisme yang memastikan suara masyarakat ikut menentukan arah pemulihan.” ungkap Dr. Lilik Kurniawan ST., MsI, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial.
Dialog kebijakan juga menyoroti keterkaitan antara agenda WPS dengan pengurangan risiko bencana, termasuk melihatnya dalam konteks pemulihan pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir November 2025. Dialog kebijakan dan pemutaran film diikuti oleh lintas pemangku kepentingan – pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil, kelompok orang muda, pakar, dan mitra pembangunan.
Kelompok perempuan, jejaring masyarakat sipil, dan kontributor film diundang untuk menyelenggarakan pemutaran film di lingkup komunitas masing-masing selama 1 sampai 19 Oktober 2026. Pemutaran ini menjadi ruang untuk memperluas jangkauan film, memantik percakapan, membangun jejaring, merawat ingatan kolektif tentang peran perempuan sebagai dan keamanan di Aceh, serta meneruskan pembelajaran tersebut untuk generasi yang akan datang. Kelompok yang berpartisipasi dalam pemutaran juga diundang untuk membagikan ulasan dan refleksi mereka melalui di media sosial organisasi masing-masing.
Film dokumenter Inong Peudame dapat ditonton melalui link berikut: https://bit.ly/inongpeudame
Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Kerangka Regional UN Women Menuju Masyarakat yang Damai dan Inklusif: Memajukan Agenda Perempuan, Perdamaian dan Keamanan serta Tata Kelola Pemerintahan yang Inklusif di Kawasan Asia-Pasifik (2023-2027). (*)












